PRASASTI-PRASASTI YANG ADA DI LAMPUNG

Dalam penelitian Arkeologi dan Sejarah, prasati sering berperan sebagai sumber sejaman yang amat penting, karena memberikan sejumlah informasi mengenai aspek-aspek kehidupan masyarakat lampau. Dari Daerah Lampung sampai saat ini telah ditemukan sembilan buah prasasti yang berasal dari jaman Hindu-Budha, meliputi kurun waktu abad ke 7 sampai abad ke-15. Kesembilan buah prasasti tersebut adalah:

1.Prasasti Palas Pasemah (akhir abad ke 7)

Prasasti ini telah diketahui keberadaannya pada tahun 1958, di Desa Palas Pasemah dekat Kalianda Kabupaten Lampung Selatan. Prasasti ini ditulis dalam 13 baris, berhuruf Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno. Isinya hamper sama dengan isi prasasti Karang Brahi dari Daerah Jambi, Prasasti Kota Kapur dari Bangka dan Prasasti Bungkuk dari Daerah Lampung Timur, yang berisi kutukan yang tidak patuh dan tunduk kepada penguasa Sriwijaya. Prasasti ini tidak berangka tahun, namun berdasarkan Paleografinya dapat pada akhir abad ke 7.


2.Prasasti Bungkuk (akhir abad ke 7)

Ditemukan pada tahun 1985, di Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Prasasti ini seluruhnya terdiri dari 12 dan 13 baris tulisan berhuruf Pallawa dan Melayu Kuno. Keadaanya sudah sangat aus dan rusak, beberapa baris pertama dan terakhir tidak dapat dibaca sama sekali. Dari baris-baris yang dapat dibaca isinya berupa kutukan yang sama dengan yang terdapat pada prasasti Palas Pasemah. Prasasti Karang Brahi dan Prasasti Kota Kapur merupakan Prasasti Sriwijaya dari akhir abad ke-7.

3.Prasasti Batu Bedil (akhir abad ke 9 atau 10)

Prasasti ini di temukan di Desa Batu Bedil Kecamatan Pulau Punggung Kabupaten Tanggamus. Prasasti dipahatkan pada sebuah batu berukuran tinggi 175 cm, lebar 60 cm, dan tebal 45 cm, sebanyak 10 baris dengan huruf Jawa Kuno akhir abad ke 9 atau awal abad ke 10, berbahasa Sansekerta. Prasasti ditulis dengan huruf berukuran cukup besar (tinggi huruf sekitar 5 cm), namun karena batunya sangat using, terutama di bagian tengah maka tidak seluruhnya dapat dibaca. Dari beberapa baris yang dapat diketahui dapat diketahui isinya merupakan semacam doa-doa yang bersifat Budhis.

4.Prasasti Hujunglangit/ Bawang (akhir abad ke 10)

Prasasti ini terdapat di Desa Hanakau, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Penemuan pertama kali dilaporkan oleh petugas dinas Topografi yang mengadakan pemetaan pada tahun 1912. Oleh Tim Epigrafi Dunia Purbakala, prasasti ini disebut juga prasasti Bawang, karena tempat penemuannya berada di wilayah Bawang. Prasati ini disebut juga Prasasti Hujunglangit yaitu berdasarkan nama tempat yang disebutkan di dalam prasasti tersebut. Batu prasasti berbentuk menyerupai kerucut dengan ukuran tinggi dari permukaan tanah 160 cm, lebar bawah 65 cm, lebar atas 25 cm. Bagian yang ditulisi prasasti permukaannya hampir rata, terdiri dari 18 baris tulisan dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Dari akhir abad ke 10, prasasti ini sudah aus dan tulisannya sangat tipis sehingga sulit untuk pembacaan yang menyeluruh. Berdasarkan asalnya, kata Sa – tanah dan sahutan dengan nama tempat Hujunglangit, dapat member petunjuk bahwa prasasti berkaitan dengan penetapan suatu daerah menjadi sima, daerah perdikan, seperti yang terdapat pada prasasti-prasasti yang ada di zaman Hindu-Budha. Penetapan suatu daerah menjadi sima, umumnya berkenaan dengan adanya suatu bangunan suci yang terdapat di suatu daerah. Di atas bidang yang tertuilis ada gambar pisau belati, ujung belati menghadap ke kanan. Gambar pisau belati ini serupa dengan belati tinggalan kerajaan Pagaruyung yang diberi nama Si Madang Sari. Menurut dinamis, belati dari Pagaruyung ini dibuat pada abad XIV M, jadi sekitar 300 tahun lebih muda dari prasasti Hujunglangit. Relief pisau dijumpai pula pada Candi Panataran, yang bentuknya serupa dengan belati Si Madang Sari.

5.Prasasti Tanjung Raya I (sekitar abad ke 10)

Batu tertulis berbentuk lonjong berukuran panjang 237 cm, lebar di bagian tengah 180 cm dan tebal 45 cm. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1970 di Desa Tanjung Raya I, Kecamatan Sukau Lampung Barat. Prasasti dituliskan pada bagian permukaan batu yang keadaannya sudah aus dan rusak, terdiri dari 8 baris dan sulit dibaca namun masih dapat dikenal sebagai huruf Jawa Kuno dari abad ke 10. Pada bagian atas terdapat sebuah gambar berupa sebuah bejana dengan tepian yang melengkung keluar sehelai daun. Mengingat sulitnya pembacaan prasasti ini maka isinya belum diketahui.

6.Prasasti Ulubelu (abad ke 14)

Prasasti dipahatkan pada sebuah batu kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris tulisan dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ditemukan di Ulebelu, Rebang Pugung, Kabupaten Tanggamus pada tahun 1934. Sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Keadaan prasasti sudah tidak utuh, bagian ujung kiri dan kanan telah patah sehingga beberapa kata dan huruf sebagian hilang. Isinya berkenaan dengan pemujaan terhadap Trimurti (Batara Guru, Batara Brahma, Batara Wisnu). Diperkirakan berasal dari abad ke 14 M.

7.Prasasti Angka Tahun (abad ke 14)

Pada tahun 1993 ketika diadakan eskavasi di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur ditemukan sebuah prasasti Angka Tahun yang dipahatkan pada sepotong batu tufa berbentuk balok. Prasasti ditulis dengan angka Jawa Kuno, menunjuk pada tahun Saka 1247 (1325 M).

8.Prasasti Dadak / Bataran Guru Tuha (abad ke 15)

Prasasti ditemukan di Dusun Dadak, Desa Tebing, Kecamatan Perwakilan Melintang, Lampung Timur pada tahun 1994. Prasasti ditulis dalam 14 baris tulisan, disamping terdapat pula tulisan-tulisan singkat dan gambar-gambar yang digoreskan memenuhi seluruh permukaan batunya yang berbentuk seperti balok berukuran 42 cm x 11 cm x 9 cm. Tulisan yang digunakan mirip dengan tulisan Jawa Kuno akhir dari abad ke 15 dengan Bahasa Melayu yang tidak terlalu Kuno (Bahasa Melayu Madya).

About these ads

About blog mahasiswa lampung UNJ

merupakan perkumpulan mahasiswa Lampung Universitas Negeri Jakarta

Posted on November 25, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Thk’s tas informasi’a sangat menambah wawasan akan peninggalan2 sejarah purbakala yg ada dilampung, yg tadi cuma tau bbrapa prasasti ternyata lebih banyak.

    salam

    Zulpakor Oktoba M Bs

  2. Keren,tuh Prasasti Pasemah/Basemah ada deket gw,kondisinya memprihatinkan (katanya),soalnya gw juga blm pernah kesono,daerahnya rawan (alasan klasik di Lampung “Rawan”)

    kapan Lampung gak rawan dan kita bisa jalan2 dengan aman!!!!

  3. harus terus di kembangkan..bravoo

  4. mohon koreksi gambar prasasti keterangan nomor 3 bukan batu bedil tapi prasasti Bungkuk terimakasih

  5. wah ……. tolong koreksi gambar 3…..mmmm……kalau itu adalah benar ternyata pada jaman dulu tanah lampun isinya bukan orang lampung melainkan orang2 sakti dri tanah jawa,,, bagai mana tidak semua yang terpahat di semua batu dari jawa kuno dan melayau,, bahkan dari suku lmpung tak ikut andil,,,, kayaknya perlu penelitian lebih jauh ya,,, kapan suku lampung muncul,,, sebab nyak ulun lampung he,,he,,, dari letak prasasti yang sangt jauh dan mengepung seluruh wilayah lampung… menarik juga ya.. tks

  6. prasasti PALAS PASEMAH yang anda tampilkan sebenarnya PRASASTI BATUTULIS dari KERAJAAN PAJAJARAN – beraksara dan berbahasa SUNDA KUNO.

  7. ..dimohon dngn hormat kpd bung admin,agar jika berkenan,untuk lain kali postingan nya di sertakan “teks” nya.dmikian harapan kami.lbih kurang nya km haturkan matur suwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: