SISTEMATIKA PIIL PESENGGIRI

I.Unsur Piil Pesenggiri

Ada dua sumber rumusan falsafah Piil Pesenggiri, yang pertama dari sub etnis Lampung Pepadun, yang kedua dari sub etnis Lampung Saibatin (Peminggir) tetapi kedua sumber ini sangat mudah dikompromikan, karena unsur keduanya adalah sama. Piil Pesenggiri dari sumber pertama yaitu sebagai berikut:
1.Piil Pesenggiri
2.Bejuluk Beadek
3.Nemui Nyimah
4.Nengah Nyappur
5.Sakai Sambaian

Sedangkan sumber yang kedua adalah:
1.Khepot delom mufakat
2.Tetengah tetanggah
3.Bapuidak Wayu
4.Khopkhama delom bekekhja
5.Bupiil Bupesenggiri

II.Butir-Butir Piil Pesenggiri

1.Sopan Santun

Sopan santun adalah merupakan simpul bebas dari dua unsur Piil Pesenggiri yang berbunyi Nemui Nyimah dan Bepuidak Waya. Nemui Nyimah secara etimologi adalah menghormati tamu, sedangkan Bepuidak Waya berarti bermanis muka. Keduanya digabung menjadi “sopan santun” sehingga unsure sopan santun dapat diuraikan menjadi butir-butir yang lebih detail lagi. Dalam unsur menghormati tamu, maka seseorang itu selain harus berprilaku baik, masyarakat Lampung lazimnya memberikan panganan dan minuman, sehingga yang terselubung dalam prinsip Nemui Nyimah ini juga dalah kepemilikan. Hal ini memungkinkan untuk menyuguhi tamu tersebut, dengan kata lain seseorang harus berketerampilan, berpenghasilan, dengan kata lain berproduksi. Sedangkan Bapuidak Waya bermakna sopan santun, seperti yang telah diuraikan di atas adalah keterampilan, produksi, dan penghasilan serta kepemilikan, dimaksudkan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup manusia banyak. Yaitu sebagai perwujudan dari Bapuidak Waya serta pemberi seperti yang ditentukan Piil Pesenggiri. Sebagai yang diyakini bahwa pemberi akan lebih mulia dari pada penerima. Dengan demikian sopan santun di sini selain diartikan sebagai tatakrama juga memiliki makna sosial, seperti tergambar dalam butir-butir sebagai berikut:
Berprilaku baik
Berilmu
Berketerampilan
Berpenghasilan
Berproduksi
Menjadi Pelayan Masyarakat

2.Pandai Bergaul

Pandai bergaul ini adalah merupakan simpul bebas dari Nengah Nyappur dan Tetengah Tetanggah. Kata-kata Nengah Nyappur dan Tetengah Tetanggah itu sendiri juga bermakna sanggup terjun ke gelanggang. Tentu saja bermodalkan sopan dalam arti memahami segala hak dan kewajiban. Santun dalam artian siap menjadi pihak pemberi, maka seseorang sebagaimana ditintut oleh Nengah Nyappur dan Tetengah Tetenggah, harus menjadi orang yang supel, memiliki tenggang rasa yang tinggi, tetapi tidak melupakan prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam hidupnya, sebagai identitas diri. Dengan demikian maka seseorang dituntut untuk:
Supel
Tenggang rasa
Berprinsip
Kaya ide
Bercita-cita tinggi
Mampu berkomunikasi
Mampu bersaing

3.Tolong Menolong

Tolong menolong merupakan simpul bebas dari kata-kata Sakai Sambaian dan Khepot delom mufakat. Sakai Sambaian lebih tepat diterjemahkan menjadi bersatu dan mufakat. Sehingga tolong menolong di sini mempunyai makna yang sangat luas, yaitu makna yang dituntut Piil Pesenggiri yang terkandung dalam Sakai Sambaian dan Khepot delom mufakat. Tolong menolong dalam versi Sakai Sambaian akan bermakna kerja sama yang saling menguntungkan. Sedangkan tolong menolong dalam versi Khepot delom mufakat memiliki makna yang jelas sekali untuk menjaga kesatuan dan persatuan. Dengan demikian maka berarti butir-butir menolong ini sangat luas sekali, antara lain meliputi:
Mampu menjadi pemersatu
Memiliki modal (kapital)
Memiliki sarana dan prasarana
Mampu bekerjasama
Dapat dipercaya
Mampu mengambil keuntungan

4.Kerja Keras/ Prestise

Kerja keras dan prestise merupakan terjemahan dari kata Khopkhama delom bekekhja dan bejuluk beadek. Khopkhama delom bekekhja bekerja keras dan bejuluk beadek berarti gelar atau prestise. Seseorang dituntut bekerja keras untuk mencapai hasil guna memenuhi kebutuhan hidup baik bagi dirinya maupun orang lain. Prestise-prestise yang dimaksudkan oleh bejuluk beadek adalah suatu yang otomatis didapatkan seseorang manakala seseorang itu telah mencapai hasil kerja yang maksimal.
Sehingga kerja keras dan prestasi kerja melingkupi butir-butir sebagai berikut:
Memahami kebutuhan diri dan kebutuhan masyarakat
Mampu menyerap skill pemimpin
Pantas dijadikan panutan
Berprinsip dan harga diri

Prinsip dan harga diri adalah merupakan terjemahan dari kata-kata Piil Pesenggiri atau Bupiil Bupesenggiri. Baik prinsip maupun harga diri yang dimaksudkan di sini sebenarnya menurut para pengamat adalah merupakan penegasan dari unsur-unsur Piil Pesenggiri yang telah diuraikan terdahulu. Uraian-uraian sebelumnia itulah prinsip masyarakat Lampung dan itu pulalah harga diri.

Setelah diuraikan lengkap dengan butir-butir Piil Pesenggiri maka dapat dilihat adanya unsur yang pokok dalam butir tersebut, yaitu:
1.Prestise
2.Prestasi
3.Kehormatan
4.Menghormati tamu
5.Kerja keras
6.Kerjasama
7.Produktif
8.Persamaan dan daya saing
9.Keuntungan

Kesembilan unsur pokok ini adalah merupakan prinsip pokok Piil Pesenggiri, jadi merupakan falsafah kehidupan masyarakat Lampung.

About these ads

About blog mahasiswa lampung UNJ

merupakan perkumpulan mahasiswa Lampung Universitas Negeri Jakarta

Posted on November 26, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Falsafah yg hrus tetap dijunjung tinggi & tetap hrus diterapkan dalam segala hal..yg sgt mencerminkan perilaku masyarakat lampung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: