Monthly Archives: Januari 2010

Sekura dan Tuping

Sebagian dari kita mungkin baru tahu kalau di dalam tradisi Lampung terdapat tradisi topeng. Masyarakat Lampung mengenal dua nama topeng Lampung, yaitu sekura atau sekuraan, dan tupping.

1. Sekura atau sekuraan

Sekura atau sekuraan berasal dari masyrakat Belalau Bukit Pesagi, Sekala Beghak dan suku Lampung Barat. Biasanya sekura atau sekuraan ditampilkan saat perayaan Hari Raya Idul Fitri dan perayaan khusus di Kota Agung, Tanggamus. Terdapat dua macam sekura atau sekuraan, yaitu:

a. Sekura Kamak

Sekura Kamak berfungsi untuk menghibur.
Ciri-ciri sekura kamak.
a. Pakaian yang dipakai dari bebulungan diikatkan di anggota badan.
b. Topengnya kotor.
c. Tingkahnya mengundang kelucuan pada penonton.
d. Yang memakai topeng adalah pemuda yang sudah menikah.

b. Sekura Kecah

Sekura kecah ialah sekura yang baik.
Ciri-cirinya:
a. Kostum yang dipakai bersih dan rapih.
b. Yang memakai adalah gadis.

Fungsi sekura ini ialah untuk meramaikan suasana dan megawal saudara-saudara.. Sekuraan ini merupakan pentas pencak silat, dan diiringi nyanyian bait-bait pantun Lampung juga diiringi dengan rebana/ tetabuhan. Pantun ini dilafalkan dan ditujukan oleh gadis-gadis yang menyaksikan pementasan itu. Banyaknya sekura tidak dibatasi.

2. Tupping

Tupping adalah tradisi topeng dari masyarakat Kuripan, Canti, Kesugihan Lampung Selatan. Topeng jenis ini bukan hanya untuk pertunjukkan saja. Tapi topeng ini memiliki muatan spiritual yang diwariskan dari masa Ratu Darah Putih. Banyaknya topeng ada 12 buah, tidak dapat lebih atau kurang. Topeng ini tidak dapat ditawak. Topeng yang banyaknya 12 ialah tawakan dari pengawal Radin Intan II.
Selain di Canti. Marga Ratu di Kuripan juga memiliki 12 tupping yang merupakan keturunan sebai (Ratu Ibu), sedangkan di Kuripan dari keturunan yang laki-laki (Ratu Darah Putih).
Di Canti, topeng ini hanya dipakai oleh bujang berumur 20 tahun, yang dipakai dalam keadaan setengah sadar . Tupping dari Canti memiliki nama di bawah ini:
Si Udin, Si Kucrok, Si Kuton, Si Atong, Si Kucrit, Si Komen, Si Konang, Si Kupir, Si Kucir, Tampur, Katra, dan Kabra.
Pemerintah Lampung sudah berusaha mengenalkan tradisi topeng ini dengan mengadakan acara, “Topeng Seribu Wajah” di Festival Krakatau setiao tahunnya. Hal ini dimaksudkan supaya budaya ini tetap lestari dan dapat dijadikan obyek wisata di Bumi Ruwa Jurai ini.

Iklan

Upacara Cakak Pepadun

Upacara Cakak Pepadun adalah upacara pemberian gelar untuk adat pepadun. Gelar adat Lampung di anataranya ialah:
– Suttan
– Raja
– Pangeran
– Dalom, dan lain-lain
Beberapa hal yang harus dilaksanakan dalam upacara Cakak Pepadun

1. Ngurau (ngundang)
Siapa saja yang akan melaksanakan upacara adat sedapatnya mengumpulkan masyarakat adat (Peghwatin). Peghwatin akan menyuruh yang punya hajat dan masyarakat kampung lain.

2. Ngepandai (Mandai)
Mereka yang sudah diberi tahu tentang upacara ini, dapat datang untuk menemui nyimah dan dengan yang punya hajat. Dalam kesempatan ini banyak orang yang memiliki dan peghwatin yang diundang itu.

3. Pumpung
Peghwatin yang diundang itu akan membahas acara dan menetapkan tata cara upacara adat yang akan dilaksanakan. Hasil keputusan dari pumping bersifat untuk meningkatkan para peghwatin untuk ikut aktif menyukseskan acara itu. Peraturan yang dihasilkan dari pumping menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan.

4. Anjau-anjauan
Sanak saudara yang sudah diberi tahu tentang upacara adat ini, mereka dapat hadir dan bersilaturahmi juga turut membantu.

5. Canggot
Canggot adalah prosesi adat yang melibatkan pemuda pemudi atau bujang gadis, berupa tari-tarian adat, dilaksanakan sore hari di sessat (rumah adat)

6. Mesol Kibau
Kibau (Kerbau) merupakan binatang yang menjadi lambing kemegahan/ kemakmuran masyarakat adat. Kerbau itu menjadi penentu dana di dalam pelaksanaan prosesi adat Lampung Pepadun. Banyaknya kerbau yang dipotong tergantung dari keputusan pumpung .
Kerbau dipotong setelah acara canggot. Daging kerbau yang sudah dipotong dibagikan ke peghwatin, kepala dari beberapa kampung, marga, sumbai, bujang gadis, kepala tiyuh, penyimbang tiyuh, dan penghulu tiyuh.

7. Cakak Pepadun
Setiap masyarakat Lampung pepadun yang sudah melaksanakan tahapan-tahapan prosesi adat, mulai dari selamatan/ syukuran ( ruyang-ruyang), sunatan/ khitanan, tindik telinga dan meratakan gigi ( seghak sepei), upacara adat, tarian dan arakan bujang gadis ( canggot agung sumbai muli meghanai), peresmian pernikahan secara adat (ngughuk kebayan), mengenal tempat mandi (tughun mandi), ganti nama sementara (ngini ghik ngamai adok), dan puncak upacara adat adalah cakak pepadun.
Cakak Pepadun merupakan puncak dari acara yang harus dilaksanakan untuk member informasi tentang pemegang tanggung jawab dan yang memiliki hak adat kepada masyarakat. Mereka yang telah melalui cakak pepadun, bergelar Suttan, gelar yang paling tinggi dalam masyarakat adat pepadun. Mereka yang bergelar suttan wajib menjadi contoh teladan, berbudi pekerti baik, tokoh masyarakat, tokoh yang menjadi panutan di lingkungan masyarakat dan lingkungan desa sehari-hari.

Peralatan yang harus disediakan dalam prosesi adat:
1. Rato
2. Paccah aji
3. Kayu ara
4. Kutomaro
5. Kadang ralang
6. Burung garuda
7. Payung agung
8. Pepadung/ leluhur
9. Tabuhan
10. Tinggi tumbak
11. Selepas penguton
12. Talam handak
13. Peti gersik
14. Jempana
15. Pangga
16. Ijan geladak, dll.

PEPACCUR/ PEPACCOGH/ WAWANCAN

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung, siapa saja yang telah menikah mereka mendapatkan gelar adat sebagai penghormatan dan sebagai simbol bahwa mereka sudah berumah tangga. Gelar adat diterima dari keluarga pihak suami dan keluarga pihak istri.
Pemberian gelar ini dilaksanakan di dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah “Ngamai jamo ngini adek” (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek O). “Nganai jamo ngini adok” (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A). “Kebaghan adek” atau “nguwahko adek” (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A pesisir).
Ngamai digunakan untuk pengantin pria
Nginai digunakan untuk pengantin wanita
Setelah pemberian gelar, si penerima gelar diberikan nasehat (luhot-luhot). Nasehat tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang dikenal dengan istilah pepaccur (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek O), pepaccogh (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A), wawancan (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A pesisir).
Pepaccur disampaikan oleh orang yang membacakannya. Pepaccur ini disampaikan dengan cara didendangkan.
Bentuk dan Isi Pepaccur

Bentuk Pepaccur
– Terdapat bait-bait (1 bait terdapat 4 atau 6 baris)
– Syair (Puisi tradisional)
Isi Pepaccur
– Semuanya merupakan isi
– Memiliki sajak ab-ab atau abac-abac
– Berisi tentang nasihat

Fungsi Pepaccur

1. Sebagai media penyampai nasihat (pendidikan, kehidupan rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara)
2. Media Pelestarian Budaya
3. Sarana berkomunikasi
4. Media Hiburan

Contoh Pepaccur

Dialek A
Amaini Amai Suttan, adokni Suttan Pasighah

Suttan Pasighah
Numpa guai anggunan
Syukur aji wat limpah
Kurnia anjak tuhan

Lamon ngitungko soah
Kimbang mak ngidok jalan
Titutup unyin celah
Mawat selesai ghasan

Allah sifat pemughah
Sina gawoh tungguan
Mawat buntu illah
Ngeba dapok budandan

Bemohon anugrah
Ngadap sai maha Rahman
Sebab senang ghik susah
Khalik jengan gantungan

Lamon mak ghena kidah
Buhung ghitini mak buiman
Cuma nunggu ia payah
Iktikat harus mapan

Bughubah pai masalah
Lain lagi haluan
Saran lain peghintah
Cuma duduk himbawan

Haghuk ibuk ghik ayah
Betik-betikko andan
Cuntu gham gila nayah
Liwak ampai bebulan

Ngundahko cawa lattah
Sai nyinggung peghasaan
Sualau basa maghah
Suya patut tisasan

Dialek O
Amaini Amai Suttan, adokno Suttan Pasighah

Suttan Pasighah
Numpa guwai anggunan
Syukur aji wat limpah
Kurnia anjak tuhan

Nayah ngitungko masalah
Kimbang mak ngemik jalan
Ketutup unyen celah
Lakwat selesai ghasan

Allah sifat pemughah
Hino gaweh tungguan
Mak bunteu illah
Nyubo dapek bedandan

Bemohon anugerah
Ngadep sai maha Rahman
Sebab senang jamo susah
Khalik pek gantungan

Nayah mak geh ino kidah
Ngebudi ghetteino mak beiman
Cuma nunggeu io payah
Iktikat harus mapan

Beghubah pai masalah
Layen lagei haluan
Saran layen peghintah
Cuma mejjeng himbawan

Haghuk ibuk jamo ayah
Wawai-wawaiko dandan
Contoh gham gila nayah
Liwat appai bebulan

Ngundahko cawo lattah
Sai nyinggung peghasaan
Sekalau basa maghah
Suya patut disasan

(Nara Sumber : Sayuti IbrahimKiay paksi, Tanjung Kemala Kecamatan Pugung)
(sumber:A.Md, warsiyem, dkk. Hanggum Bubahasa Lampung. Bandar Lampung. Gunung Pesagi)

Objek Wisata Di Provinsi Lampung

Berwisata memang mengasyikkan, selain untuk merefresh diri kita, berwisata juga dapat membuat kita semakin mengagumi keindahan ciptaan Illahi.

Teman-teman SIKAM LAMPUNG UNJ tentu sudah beberapa kali mengunjungi tempat wisata di DKI Jakarta, seperti: Kebun Binatang Ragunan, Kota Tua, Tugu Monumen Nasional, dll.

Sayangnya kita belum memiliki kesempatan untuk bersama-sama mengunjungi tempat wisata di Provinsi Lampung, padahal Provinsi Lampung juga memiliki tempat wisata yang tidak kalah menariknya dengan tempat wisata di provinsi lain.
Berikut ini beberapa tempat wisata di Provinsi Lampung yang kami rekomendasikan:

1. Pasir Putih
2. Merak Belatung
3. Wai Lalaan
4. Waduk Batu Tegi
5. Pantai Marina
6. Pantai Mutun
7. Pantai Duta
8. Taman Purbakala Pugung Raharjo
9. Danau Ranau
10. Teluk Semangka
11. Wai Kambas
12. Museum Lampung
13. Bendungan Wai Jepara
14. Kalianda Resort
15. Makam Radin Intan
16. Wai Belerang
17. Pulau Cantik
18. Bendungan Wai Rarem
19. Air Terjun Putri Malu
20. Pantai Puri Gading

Bagaimana?? Banyak bukan??
Sudah saatnya kita mempromosikan tempat wisata di Provinsi Lampung.
Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau tidak sekarang, kapan lagi?