PEPACCUR/ PEPACCOGH/ WAWANCAN

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung, siapa saja yang telah menikah mereka mendapatkan gelar adat sebagai penghormatan dan sebagai simbol bahwa mereka sudah berumah tangga. Gelar adat diterima dari keluarga pihak suami dan keluarga pihak istri.
Pemberian gelar ini dilaksanakan di dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah “Ngamai jamo ngini adek” (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek O). “Nganai jamo ngini adok” (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A). “Kebaghan adek” atau “nguwahko adek” (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A pesisir).
Ngamai digunakan untuk pengantin pria
Nginai digunakan untuk pengantin wanita
Setelah pemberian gelar, si penerima gelar diberikan nasehat (luhot-luhot). Nasehat tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang dikenal dengan istilah pepaccur (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek O), pepaccogh (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A), wawancan (bagi lingkungan masyarakat Lampung dialek A pesisir).
Pepaccur disampaikan oleh orang yang membacakannya. Pepaccur ini disampaikan dengan cara didendangkan.
Bentuk dan Isi Pepaccur

Bentuk Pepaccur
– Terdapat bait-bait (1 bait terdapat 4 atau 6 baris)
– Syair (Puisi tradisional)
Isi Pepaccur
– Semuanya merupakan isi
– Memiliki sajak ab-ab atau abac-abac
– Berisi tentang nasihat

Fungsi Pepaccur

1. Sebagai media penyampai nasihat (pendidikan, kehidupan rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara)
2. Media Pelestarian Budaya
3. Sarana berkomunikasi
4. Media Hiburan

Contoh Pepaccur

Dialek A
Amaini Amai Suttan, adokni Suttan Pasighah

Suttan Pasighah
Numpa guai anggunan
Syukur aji wat limpah
Kurnia anjak tuhan

Lamon ngitungko soah
Kimbang mak ngidok jalan
Titutup unyin celah
Mawat selesai ghasan

Allah sifat pemughah
Sina gawoh tungguan
Mawat buntu illah
Ngeba dapok budandan

Bemohon anugrah
Ngadap sai maha Rahman
Sebab senang ghik susah
Khalik jengan gantungan

Lamon mak ghena kidah
Buhung ghitini mak buiman
Cuma nunggu ia payah
Iktikat harus mapan

Bughubah pai masalah
Lain lagi haluan
Saran lain peghintah
Cuma duduk himbawan

Haghuk ibuk ghik ayah
Betik-betikko andan
Cuntu gham gila nayah
Liwak ampai bebulan

Ngundahko cawa lattah
Sai nyinggung peghasaan
Sualau basa maghah
Suya patut tisasan

Dialek O
Amaini Amai Suttan, adokno Suttan Pasighah

Suttan Pasighah
Numpa guwai anggunan
Syukur aji wat limpah
Kurnia anjak tuhan

Nayah ngitungko masalah
Kimbang mak ngemik jalan
Ketutup unyen celah
Lakwat selesai ghasan

Allah sifat pemughah
Hino gaweh tungguan
Mak bunteu illah
Nyubo dapek bedandan

Bemohon anugerah
Ngadep sai maha Rahman
Sebab senang jamo susah
Khalik pek gantungan

Nayah mak geh ino kidah
Ngebudi ghetteino mak beiman
Cuma nunggeu io payah
Iktikat harus mapan

Beghubah pai masalah
Layen lagei haluan
Saran layen peghintah
Cuma mejjeng himbawan

Haghuk ibuk jamo ayah
Wawai-wawaiko dandan
Contoh gham gila nayah
Liwat appai bebulan

Ngundahko cawo lattah
Sai nyinggung peghasaan
Sekalau basa maghah
Suya patut disasan

(Nara Sumber : Sayuti IbrahimKiay paksi, Tanjung Kemala Kecamatan Pugung)
(sumber:A.Md, warsiyem, dkk. Hanggum Bubahasa Lampung. Bandar Lampung. Gunung Pesagi)

Iklan

About blog mahasiswa lampung UNJ

merupakan perkumpulan mahasiswa Lampung Universitas Negeri Jakarta

Posted on Januari 23, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s