Monthly Archives: Februari 2010

Ringget

Beberapa orang pandai membacakan sebuah puisi, beberapa yang lain pandai menulis puisi. Sebagai mahasiswa Lampung pernahkah kita membaca atau menulis puisi Lampung?

Puisi dalam bahasa Lampung, antara lain: paradenei, talibun, pepaccugh, dan ringget. Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai ringget.

Ringget adalah salah satu bentuk sastra lisan Lampung (dialek Abung) yang sering dipergunakan dalam upacara pelepasan mempelai wanita, pengantar musyawarah adat atau pelengkap acara cangget.
Ciri-ciri ringget adalah memiliki bait demi bait dan tiap baitnya terdiri dari empat baris, bersajak a-b-c-d, jumlah bait dala satuan ringget ada kurang lebih 12 bait. Isi ringget pada umumnya berupa kenangan masa lalu, harapan atau pesan-pesan yang disampaikan oleh pembaca ringget. Jika ringet digunakan dalam pelepasan mempelai wanita, pengungkapannya dilakukan sesaat sebelum keberangkatan.

Contoh Ringget.

Tabik nuppang cerito (maaf numpang berkata)
Sikam pun kilu watteu (Saya mohon waktu)
Unyen gham sai tetengan (Kepada semua yang hadir)
Wawai pik wawai harei (Kesempatan baik hari ini)

Panas kebiyan sino (Hari ini)
Nyak diitarken bidang sukeu (Saya dilepas oleh semua suku)
Lajeu bidang kebuaian (Beserta semua kebuaian)
Anak lunjak patcah ajei (Dari podium kebesaran adat)

Ayah umei metei wo (Ayah Ibu kalian berdua)
Lajeu segalo uppeu (Beserta kakek dan nenek)
Munih apak kemaman (juga paman)
Keminan tutuk mehanei (Bibi, adik, dan kakak)

Sakik setenno ajo (Sakit sebenarnya ini)
Lak puas di atei keu (Belum puas rasanya)
Tahhun lak piho limban (Belum terlalu lama)
Di unggak kepikan metei (Di atas pangkuan kalian)

Mulei di libo ghabo (Gadis di hilir dan di hulu)
Meghanai bidang sukeu (Pemuka seluruhnya)
Ki wat nyapang aturan (Andaikan ada kesalahan)
Nyak mahap jamo metei (Saya mohon maaf kepada kalian)

Iduh kapan gham tunggo (Entah kpan kita berjumpa)
Nyak lapah makko watteu (Saya pergi tidak terbatas waktu)
Pepido siwek rasan (Kita sama-sama disibukkan pekerjaan)
Dibingei, tukuk, debel (Malam, pagi, dan sore)

Adik metei wo tugo (Adikku semua)
Beghadeu iling piseu (Hentikan kebiasaan berkelahi)
Cutcun adat aturan (Junjung adat aturan)
Dang guwai kesel atei (Jangan membuat hati kesal)

Katteu maka nyaman diyo (Siapa tahu)
Wat salah kelereu (Ada salah atau kekeliruan)
Jejamo semahapan (Mari saling memaafkan)
Mahhal igo gham warei (Mahal arti persaudaraan)

Layen kado ulun tano (Umumnya, orang sekarang)
Kak nayah sumang lakeu (Sudah banyak kelakuannya yang aneh)
Nyaman adat aturan (Tidak mengetahui adat aturan)
Cepalo makko lagei (Pamali/ tabu tidak ada lagi)

Begheng timbul cerito (Ketika mendapat aib)
Sango miyanak maleu (Sekeluarga menanggung malu)
Nutukken sai mak keruan (Mengikuti yang tidak senonoh)
Direi mak mak beigo lagei (Harga diri tidak ada lagi)

Kak mittar nyak jo tano (Sekarang asaya sudah mau berangkat)
Labuhan rateu kutujeu (Labuhan ratu yang kutuju)
Nedo pai jamo Tuhan (Memohon kepada Tuhan)
Tagen selamat tiogeh nei (Agar selamat sampai tujuan)

Penano pai tuan (Sampai sekian dulu, paman)
Lajeu di miyanak warei (Beserta semua sanak saudara)
Jejamo semahapan (Mari saling memaafkan)
Sikam lapah permisei (Sata permisi dulu untuk pergi)

Cukup sekian dulu ya….sampai jumpa di tulisan berikutnya..

Iklan

Segata/ Adi-Adi/ Pattun

Segata/ Adi-Adi/ Pattun merupakan salah satu sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi. Istilah pattun dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Abung, Menggala (Tulang Bawang), Pubian, Sungkai, Way Kanan, dan Melinting. Di lingkungan masyarakat Pesisir dikenal dengan istilah segata dan ada pula yang menggunakan istilah adi-adi.
Oleh karena itu untuk mengefektifkan tulisan ini, digunakan istilah segata.

Puisi jenis segata di kalangan etnis Lampung lazim digunakan dalam acara-acara muda-mudi yang disebut dengan istilah kedayek/ kedayok atau jagodamagh/ jagadamagh. Di samping itu, di lingkungan masyarakat Lampung Pepadun, segata sering pula digunakan untuk melengkapi acara cangget ‘tarian adat’.
Isi segata bermacam-macam. Secara umum, isinya berupa ungkapan perasaan, harapan, atau humor.

Fungsi dan Contoh Segata

Segata dalam kehidupan masyarakat Lampung memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Digunakan sebagai media pengungkapan isi hati kepada seseorang (dari si bujang kepada si gadis atau sebaliknya).
2. Dijadikan alat penghibur pada suasana bersantai atau dijadikan alat penghilang kejenuhan.
3. Dijadikan pelengkap acara cangget tarian adat (di lingkungan masyarakat Lampung pepadun).

Jenis-Jenis Segata

Menurut isi segata dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis yaitu:
1. Segata sanak ngebabang
Segata sanak ngebabang yaitu segata yang biasa disampaikan oleh kaum ibu, segata ini dimaksudkan untuk menina bobokan anak.

Contoh:

(Dialek A)
Api sai bundogh-bundogh
Sai bundogh ina buah peci
Ngeliyak apak makai motogh
Si adik naghi-naghi

(Dialek O)
Nyou sai pukem-pekem
Sai pukem ino buah peci
Ngenah apak makai helm
Si adik naghei-naghei

(Dialek A)
Buwak lapis buwak putu
Dibeli mak diantakko abang
Mati kak sikop pudak adikku
Lamun mak ghisok miwang

(Dialek O)
Juadah lapis juadah puteu
Dibelei mak diatakko abang
Metei kak sikep pudak adikkeu
Lamen mak ghisok miwang

2. Segata Buhaga
Segata buhaga adalah segata yang disampaikan oleh mulei meghanai Lampung. Segata ini disampaikan untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Contoh:

(Dialek A)
Mati kak dawak mahhanku
Unggul mawas disapu ghua kali
Dapok kudo kupandai mahhanmu
Nyak haga singgah dudi

(Dialek O)
Mettei kak dawak nuwokeu
Unggal dawah disapeu wou kalei
Dapek kudo kupandai nuwomeu
Nyak agou singgah di nei

3. Segata Nangguh
Sefata nangguh adalah segata yang biasa disampaikan pada saat ada acara tertentu, segata ini dimaksudkan untuk membuka dan menutup suatu acara.
Segata ini biasa disampaikan oleh pembawa acara.

Contoh:

(Dialek A)
Muli sikop makai baju
Tambah sikop ia bedandan
Api kabagh unyin puaghiku
Sihat seunyinni sina haghopan

(Dialek O)

Mulei sikep makai kawai
Tambah sikep io bedandan
Nyou kabagh unyen waghei
Sihat seunyenno hino haghopan

4. Segata Lelagaan/ Gunjogh/ Begughau
Segata Lelagaan/ Gunjogh adalah segata yang disampaikan dengan maksud unuk mengolok-olok atau untuk bersenda gurau. Umumnya segata ini disampaikan oleh mulei meghanai.

Contoh:

Kikim disanik tapai
Kemunnian ghasani pahit
Niku meghanai wawai
Kidang saying mak beduit

5. Segata Nyindegh
Segata nyindegh adalah segata yang disampaikan dengan maksud memberi kiasan pada orang lain, atau menyindir tapi dengan cara yang sopan. Segata ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada putra-putrinya yang mau remaja, terkadang juga digunakan oleh muda-mudi.
Contoh:
Belajagh sai temon-temon
Tambagh ghajin tambah pandai
Najin sikam sanak pekon
Adat budaya tetep gham pakai

6. Segata Ijah Tawai
Segata ijah tawai adalah segata yang disampaikan dengan maksud untuk memberikan nasehat kepada yang menerima segata. Segata ini biasa disampaikan oleh para orang tua untuk menasihati generasi penerusnya.

Contoh:
Nayah ulun nyanik ketupat
Apilagi haga lebaghan
Dang lupa ngebayagh zakat
Ki bandu ghadu kelamonan

Contoh yang lainnya (dari abang Ismail)

maaf jamo puakhi ikam busagata pai cutik
“gennang bawak samang
bungi di lammung kayu
dang miwang badan malang
ijo khadu nasibmu”

“nanom jagung sebasung
kebok umo kebelah
najin mak masso lappung
jawo-jawo jadilah”

“bakhong kak dibi-dibi
midokh di khappong talos
sukhatku mijo ibi
kadu kudo di balos”

sekali lagi maaf jamo puakhi mon slh bhso tp inolah bhso sai di pakai ikam jabung lampung timur

SANAK HAGHUK JAMA PATIKANI

Di suatu pekon ughiklah keluaghga sederhana sai dkughniani sai sanak bakas. Waktu anakni beumogh 6 tahun apakni ghadu ninggal. Ulih sina sanak bakas sina di ughau jama ughauan sanak haghuk. Guwai nyukupi kebutuhan keluargani emak sanak haghuk nanom gegulaian ghik kembang-kembang. Mak teghasa sappai anakni kughuk meghanai.
Sanak haghuk balak jagi meghanai wawai ghik kicar kiwar. Ia selalu ngebattu nanom kembang-kembang ghik gegulaian. Kembang-kembang ghik gegulaian sai ditanom tiyan tuwoh subur ghik bekembang helau-helau nihan.

“Mak, ghepa lamun kembang-kembang sinji sikam sai ngejualni mit pasagh, pesti hasilni dapok nyukupi kebutuhan gham ganta ji”, cawa sanak haghuk sina di suatu ghani. “Ya..ya… temon sina, lapahlah niku ngejual kembang-kembang sinji, lohot emak, niku sai jujur ghik wewah pudak jama sapa gawoh sai ngebeli kembangmu”, sina nasihatni emakni sanak haghuk. Kembang-kembang sanak haghuk didemonni jama bebai-bebai ghik muli-muli sappai-sappai Putri Raja ngedengi hal sina.

Di pasagh sanak haghuk demon jama binatang ingunan. Ia haga jama kambing, jawi ghik manuk. Sappai di suatu ghani sewaktu ia mulang anjak pasagh, lamun ia betungga jama hulun sai haga matiko binatang ia beli. Waktu ina ia ngeliyak kucing haga dipatiko ia beli, wat lagi hulun sai matiko kenui ia beli, sappai wat hulun matiko tikus ia beli. Sewaktu ia haga nyebeghang wai ia ngeliyak iwa mas sai haga mati di pinggegh wai, ditulungni iwa sina, ghadu sina diluppukonni iwa sina di wai. Akhirni sanak haghuk lamon patikanni.

Putri Raja sai ghisok ngebeli kambing jama sanak haghuk munni kemunnian ia demon jama sanak haghuk. Ghena munih sanak haghuk demon jama Putri Raja. “Mak sikam kilu tulung, pinengko sikam jama Putri Raja”, cawa sanak haghuk jama emakni. Emakni tekanjat ghik beliau cawa, “nyak mak kuwawa anakku, gham mak sebanding jama Putri Raja, sepok gawoh muli sai sepadan jama gham,” . “ Lamun goghena sikam haga mineng tenggalan”, cawa sanak haghuk. Tigoh di istana mati kak maghah Raja ngedengi api sai dicawako jama sanak haghuk. Cawa Raja ,”Niku dapok nikah jama sanakku, asal niku dapok ngecet sesai istana sinji jama emas”. Sanak haghuk nyanggupi api sai dicawako Raja.

Sanak haghuk mulang, di lelapahan ia bupikegh ghepa caghani ngecat sesai istana jama emas, sedangko emasni gawoh sikam maka ngedok. Tigoh di lamban patikanni sanak haghuk butanya, “ ulah api sanak haghuk keliyakan sedih nihan?” Sabak haghuk nyeghitako api sai sebenoghni teghjadi.

“Lamun jughena lapah gham busantai mit wai,” cawa kenui jama sanak haghuk ghik indai kancani. “Setuju” cawa tiyan jama-jama. Sappai di wai tiyan ngeliyak iwa mas balak tekulai mati di pinggegh wai. Iwa ina iyulah iwa sai ghadu ditulung jama sanak haghuk. Laju iwa ina diakuk ghik dibelah, mak panaini wat emas di lom betongni. Lamon nihan emasni hampigh 3 kg.

Jama battuan patihanni di debingni tiyan ngecat sesai istana jama emas. Subhanallah tikus dapok ngeghjako pok-pok sai ghanggal ghik sulit dijangkau. Jughenalah tiyan bukeghja jejama guwai nyelesaiko keghjaan ngecat dinding istana kak ghadu.
Pagini ulun-ulun istana mekik-mekik, “Kebakaran-kebakaran!” teriak hulun-hulun sina, ulih diliyakni istana ngining kining. Ngedengi mekikan=mekikan ina Raja luwah, mak pandaini waktu diliyak istanani ghadu dicet jama emas. Ulah sina diughaulah sanak haghuk ghik dijadiko manantuni.

Lagu-Lagu Lampung

Cangget Agung (Cipt: Syaiful Anwar)

Sesat Agung sai wawai
Talo butabuh tarei cangget
Gawei adat
Tano tigeh cakak pepadun
Adat budayo Lappung
Nayah temmen ghagem wawaino
Jepano, gerudono, rato sebatin

Reff.
Cangget agung 2X
Mulei batangan
Di lem kuto maro 2X
Mejjeng besanding
Gawei adat Lappung 2X
Jak zaman tuho
Lapah gham jamo-jamo
Ngelestareiken adat Lappung

Anak Tupai
Hai munih anak tupai
Ngebabai anak napuh
Sai nikeu lakwat nadai 2X
Nyak munih lakwat buguh

Pegago di lem kebun
Mak pahik anou kedei
Kehagou diakuk ulun 2X
Mak sakik atei kedei

Reff.
Najin tanou
Dirikeu tepik sayan
Guainyou kehagou
Lamen agou sarou
Wai seputih ngirih kirih
Wai abung timbul beteu
Pikken nyak Akuk baghih 2X
Lamen kurang di ateimeu

Seminung
Seminung di kala debi
Cahyani kuning gegoh emas
Cukutni nampagh mata
Tebingni ngejutko hati

Manuk-manuk behamboghan
Di ja dudi ghagom bupantun
Ngeghasako angin seminung
Ceghita jak zaman saka

Reff.
Segala huma di zaman tumbai
Tanom tumbuh
Tuwah mak buantagha
Seminung sikop dilingkoghi wai
Kughnia Tuhan Maha Kuasa

Kelapo Kupung
Pung-pung kelapo kupung
Digigik-gigik tupai
Mulei nayah sai buhung
Bejanjei agou bebai

Lak ilung kulak ilung
Lak ilung badan asai
Mulei nayah sai bingung
Dipikken meghanai wawai

Reff.
Lamen gham kak sakik
Makko sai dapok cawou
Segalou judeu
Wat dipungew sai kuasou

Sebik Hati
Mejong di puppik tebing nyincing telesan basoh
Di puppik tebing, nyincing telesan basoh
Wat ingok kuli bombing
Kilu bimbing makwat sangun kak jawoh 2X

Makwat sangun kak jawoh, hiji sai haga kuti
Kaka jawoh hiji sai haga kuti
Walau ghidik mak ngampoh
Mak ngampoh mak sayang di nyak lagi 2X

Reff.
Mak sayang di nyak lagi sangun saka kuteduh
Di nyak lagi sangun saka kuteduh
Bangik-bangik pai kuti
Pai kuti unyin sai nunggu tiuh 2X

Unyin sai nunggu tiuh kuti kak bela gahing
Nunggu tiuh kuti kak bela gahing
Nyak ijung lapah jawoh
Lapah jawoh mangi pegheda hanning 2X

ONANG
Adikkew dengei ceritow ku jow
Ceritow rakyat jak menggalow
Wat gelew onang di jaman how
Nalem nihan nyusun ceritow

Reff: sekalei onang lapah nembak dek
Pilur gelek pagun lak massow
Salah liwih wat sai dinahnow dik
Pkew sepatew jadi pilurnow

Nembak lemaweng kenow gendangnow
Laju tepakew di batang kayeu
Lemaweng pesow luar biasow
Telepat dik tepiklah babaknow

Teteduhan

Kalau dilihat dari judul di atas, mungkin para pembaca mengira penulis akan membahas tempat-tempat berteduh yang aman jika hujan deras. Bukan, bukan itu kawan. Teteduhan adalah sebutan teka-teki atau tebak-tebakan dalam bahasa lampung. Tidak hanya teteduhan, di daerah Kedonong teka-teki atau tebak-tebakan dikenal dengan istilah saganing, bahkan ada juga yang menyebutnya sakiman.
Memang, sejak zaman dahulu teka-teki atau tebak-tebakan sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pemuda dan pemudi. Banyak penyebutan atau istilah lain dan di setiap daerah berbeda-beda. Oleh karena itu untuk mengefektifkan tulisan ini, penulis menggunakan istilah teteduhan
Dalam masyarakat Lampung, teteduhan berfungsi untuk:
1. Sebagai saran hiburan
2. Dapat meningkatkan silaturahmi
3. Sebagai sarana komunikasi
4. Dapat meningkatkan kretivitas
5. Menambah wawasan
6. Melestarikan budaya Lampung

Cara membuat teteduhan
1. Teteduhan tidak harus disampaikan dengan bernyanyi, bernyanyi merupakan salah satu contoh penyampaian teteduhan yang dapat menyenangkan hati.
2. Kata-katanya tidak dibatasi, yang penting sopan.
3. Kalimatnya juga tidak dibatasi, namun usahan singkat dan jelas.
4. Dapat diambil dari bahasa Indonesia lalu diubah ke bahasa Lampung
5. Gunakan kata-kata perumpamaan

Contoh teteduhan

Kukughuyuk-kukughuyuk
Ghena bunyini
Cukutni wat tekah
Binatang api gelaghni?

Behenap lain iwa
Betudung lain ghaja
Sapa sai dapok neduh
Api gelaghni sina?

Mengan sekali
Betongni butahun-tahun
Sapa sai dapok neduh
Api gelaghni sina?

Contoh Teteduhan Singkat:

1. Kabulu dabah datas, putangkop bangik nana (artinya: matou pedom)
2. Lapahni injing-injing, digok-digok mak cawa. Behulu mak becuping, api gelaghni (artinya: gasing)
3. Cepuput lain sujut, yow mejeng ngakeh-akeh. Lamen deniyow rebut yow macah-maceh (artinya: kuduk)
4. Sek kisek-kisek cir luwah wai andak (artinya: ngebasuh biyas)
5. Ngedok nap lain iwa, wat paying lain raja (artinya: buah nanas)
6. Sai dengak sai dideh, matow kelap kelip, cakak turun cakak turun (artinya: menggergaji)
7. Bebai tuhow ngayem lem way (artinyaL lakkut)
8. Mengan sekalei, betong betahun-tahun (artinya: lunan)
9. Lappeu pandai tambugh (artinya: kunang-kunang)
10. Ngemik galah, anying mak makko uleu (artinya: gudeu/ gudu/ botol)
11. Diarak lain majeu, bepayung lain rajo (artinya: jenazah dibatok makai keghanda)
12. Indulno dipusau-pusau, ankno diiyek-iyek (artinya: tangga)
13. Nganak menou mangi meteng (artinya: paghei/ paghi)
14. Jinnow now agheng. Munnei-kemunneian jadei andak (artinya: buwek/ buwok)
15. Ulai matei pandai ngudut (artinya: ubat nyinyik)