Monthly Archives: April 2010

CAM-CAM BUKUR

Selain permainan karet, Lampung masih memiliki beberapa permainan tradisional, salah satunya adalah “CAM-CAM BUKUR”. Penasaran dengan permainan ini?. Simak tulisan dibawah ini, ok…

1. Nama Permainan
Permainan ini dinamakan “Cam-cam Bukur” adalah sesuai dengan syair yang diucapkan/ dibawakan pada saat penyelenggaraan permainan.

2. Hubungan Permainan dengan Peristiwa lain
Penyelenggaraan permainan ini tidak ada hubungan apa-apa dengan peristiwa-peristiwa sosial tertentu ataupun suatu kepercayaan religius magis, melainkan haya bersifat reaktif yang kompetitif.

3. Latar Belakang Sosial Budaya Penyelenggraan Permainan
Permaianan ini dapat dilakukan oleh anak-anak dari segala tingkatan atau lapisan masyarakat.

4. Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan
Sejarah perkembangan permainan ini tidak diketahui dari mana sumbernya dan siapa pembawanya dan sebagainya. Yang jelas bagi informan bahwa permainan ini sudah dikenal sejak masa kanak-kanak.

5. Peserta/ Pelaku Permainan
Permainan ini pada umumnya dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia sekitar 7 – 12 tahun, tapi kadang juga dilakukan oleh anak perempuan. Jumlah peserta minimal 4 orang, tetapi semakin banyak pserta semakin meriah.

6. Peralatan/ Perlengkapan Permainan
Perlengkapan permainan hanya menggunakan sebuah batu kerikil dan sepotong kayu untuk ditancapkan di tanah sebagai patokan.

7. Iringan Permainan
Dalam penyelenggraan permainan ini tidak disertai dengan iringan bunyi-bunyian ataupun alat musik, melainkan hanya sebagai syair yang diucapkan berulang-ulang oleh ketua permainan

8. Jalannya Permainan
Permainan ini biasanya dilakukan anak-anak pada saat sore hari atau pada malam terang bulan. Misaknya 6 orang anak telah sepakat akan melaksanakan permainan ini. Mereka mencari halaman rumah yang agak luas, halaman sekolah, atau sebuah lapangan kecil. Dengan jalan bersuit secara bertingkat, mereka akan mendapatkan siapa yang akan menjadi pemenang final. Maka pemenang final itulah yang menjadi ketua, pemimpim permainan (misalnya si A).

Anak-anak yang lima orang, misalnya si B, si C, si D, si E, dan si F, berbaris satu-satu dengan jarak atau lancing tangan dan menghadap kepada tonggak yang ditancapkan di tanah sebagai patokan dengan jarak kurang lebih 20 meter dari barisan.
Kedua belah tangan anak-anak yang berbaris ditarik ke belakang dengan telapak tangan kanan yang terbuka. Sang ketua sambil menggenggam batu kerikil pada tangan kanannya, lalu berjalan mondar-mandir di belakang barisan tersebut sambil mengucapkan satu bait syair secara berulang-ulang. Pada setiap suku kata syair tersebut dia menyentuhkan tangannya yang mengenggam batu kerikil pada tangan anak-anak yang berbaris itu. Bait pantun tersebut adalah sebagai berikut:

Cam-cam Bukur,
Rimbat Bunga lalu,
Kusinggung kusimbat,
Sapa dapat melompat.

Yang artinya kira-kira demikian:

Cam-cam Bukur,
Menggait bunga sambil lalu,
‘ Kusinggung dan ku sentuh,
Siapa mendapat cepat melompat.

Sementara itu anak-anak yang berbaris tersebut waspada dan was-was menantikan, akan diletakkan di tangan siapakah batu kerikil tersebut oleh si ketua setelah dua kali ulang atau lebih syair tersebut oleh ketua (dalam hal ini terserah pada ketua).

Maka batu kerikil tadi diletakkan pada telapak tangan salah seorang di antara anak-anak yang berbaris itu. Maka si anak tersebut harus segera melompat ke muka kea rah tonggak yang telah ditentukan. Bila si anak yang mendapat batu kerikil tadi, misalnya si D, pada saat hendak melompat dan lari ke arah tonggak, sempat dijangkau dan disentuh oleh salah seorang anak yang dekat dengan si D, berarti si D gagal dan harus mengembalikan batu kerikil tersebut kepada ketua.

Maka sang ketuapun mengulangi lagi permainan dengan cara kembali berjalan mondar-mandir di belakang anak-anak yang berbaris sambil mengucapkan syair dan menyentuh-nyentuhkan tangannya yang berisi kerikil pada tangan anak-anak tersebut.

Jika dimisalkan bahwa si D berhasil melompat dan lari menuju tonggak tanpa tersentuh oleh anak-anak lain, dia lantas menunggu di situ. Sementara itu kepada anggota-anggota barisan, sang ketua sambil berbisik memberikan nama samara bagi masing-masing anggota. Kelima anggota yang berbaris tersebut oleh ketua secar berbisik diberikan nama samara apa saja, boleh nama binatang, nama tumbuhan, dan sebagainya. Misalnya dalam hal ini, si B – kuda, si C – kerbau, si E – kucing, si F – kambing. Kemudian oleh si ketua kepada anak yang menunggu di patok tadi (si D) ditanyakan, apakah: kuda, kerbau, kucing, atau kambing. Kalau si D menjawab: “Mau Kuda”, maka anak yang mempunyai nama samara kudalah (si B) yang bertugas menjemput si D dan menggendongnya membawa ke tempat barisan kembali (dalam hal ini biasanya digendong belakang). Setelah permainan babak tersebut selesai, kemudian dilanjutkan kembali oleh ketua yang baru berdasarkan undian. Dan ketua yang baru inipun memimpin permainan seperti yang telah dilaksanakan oleh ketua terdahulu. Dengan catatan bahwa si D sebelum semua kawan-kawannya mendapat giliran dia belum boleh mendapat batu kerikil itu kembali. Kalau sudah semua mendapat giliran memimpin permainan dan mendapat giliran digendong, terserah semua anggota apakah permainan akan dilanjutkan atau dihentikan. Yang membuat lucu dalam permainan ini adalah bila sang ketua/ pemimpin permainan dengan cerdiknya memberikan nama-nama samara binatang-binatang yang besar untuk anak-anak yang berbadan kecil dan binatang-binatang yang kecil untuk anak-anak yang berbadan besar. Sehingga bila yang bernama samara binantang yang besar, sedang anak yang berbadan kecil terpilih untuk menggendong, dan yang digendong berbadan besar akan Nampak lucu sekali. Di mana anak kecil yang menggendong tadi dengan tertatih-tatih membawa beban gendongannya yang besar di punggungnya. Demikianlah permainan ini akan berakhir bila semua anggota telah mendapat giliran digendong, sedang para anggota pemain sudah ingin berhenti.

9. Peranannya Masa Kini
Permainan ini masih sering dilakukan oleh anak-anak terutama di desa-desa yang jauh dari kota-kota karena belum terdesak oleh permainan yang datang dari luar.

10. Tanggapan Masyarakat
Dalam penyelenggraan ini masyarakat terutama orang-orang tua merasa senang melihat anaknya bermain/ bergaul sesamanya. Dengan demikian anak-anak tidak melakukan kenakalan di rumah. Di samping itu dalam permainan ini mengandung unsure olahraga, musyawarah, disiplin, dan sebagainya.

MAIN KARET ; salah satu permainan rakyat Lampung

Segala puji bagi Rabb semesta alam yang telah memberikan kesempatan kepada SIKAM LAMPUNG UNJ untuk kembali menulis artikel di blog ini.
Apa kabar para pembaca semua? mudah-mudahan selalu sehat wal afiat.

Pada kesempatan kali ini SIKAM LAMPUNG UNJ akan membahas salah satu permainan rakyat Lampung, yaitu main karet. Pada zaman sekarang permainan tradisional seperti ini semakin ditinggalkan karena teknologi yang semakin canggih dan anak-anak lebih menyukai itu. Akan tetapi kami sebagai mahasiswa Lampung merasa terpanggil untuk menulis ulang pembahasan ini agar permainan ini tetap dikenal oleh generasi mendatang masyarakat Lampung. Pembahasan ini dikutip dari:

Permainan Rakyat Daerah Lampung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Jakarta. 1982

silahkan dibaca…

1. Nama Permainan
Nama permainan ini disesuaikan dengan peralatan yang digunakan dalam permainan yaitu karet gelang sebagai taruhan dalam permainan.

2. Hubungan Permainan dengan Peristiwa lain
Permainan ini biasanya dilakukan pada siang hari dan pelaksanaannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan suatu peristiwa sosial tertentu ataupun yang bersifat religius magis tetapi hanya merupakan rekreasi belaka.

3. Latar Belakang Sosial Budaya
Permainan dapat dilakukan oleh siapa saja dan dari segala lapisan atau tingkatan masyarakat.

4. Latar Belakang Sejarah Perkembangan
Tentang latar belakang sejarah perkembangan permainan ini tidak diketahui, hanya yang jelas bahwa permainan ini telah dilakukan sejak masa kanak-kanaknya informan.

5. Peserta/ Pelaku Permainan
Permainan biasa dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan dan dimainkan oleh sekurang-kurangnya dua orang atau lebih tergantung dari versi permainannya. Usia permainan berkisar antara 7 – 13 tahun.

6. Peralatan/ perlengkapan Permainan
Alat permainan yang digunakan adalah karet-karet gelang yang dimiliki peserta yang akan digunakan sebagai taruhan dalam permaianan ini, sepotong kapur atau arang untuk menggmbar denah permainan, sebuah kaleng susu dan lidi.

7. Iringan Permainan
Penyelenggraan permainan ini tidak disertai suatu iringan apapun, baik berupa bunyi-bunyian, alat musik ataupun lagu.

8. Jalannya Permainan
Dalam permainan karet ini terdapat bermacam-macam versi, antara lain:
a. Main Pacet
b. Main Jelentik
c. Main Bandar
d. Main Kaleng Susu
e. Main Lidi

a. MAIN PACET

Permianan ini adalah permainan karet dalam lingkaran. Bila seseorang dalam menembak karet yang berada dalam lingkaran tersebut ternyata karetnya berhasil keluar, tetapi alat penembak (gaconnya) terus menyenggol kaki kawan/ lawan sepermainan atau penonton, maka dia berhak kembali menembak karet-karet taruhan yang ada dalam lingkaran. Jadi yang dikatakan pacet di sini adalah bila sewaktu menembak, alat penembak terkena orang lain.

Jalannya Permainan

Permainan ini dimulai setelah masing-masing peserta, misalnya tiga orang, masing-masing melemparkan gacon (alat penembaknya) dari dekat lingkaran ke garis tempat menembak sebagai berikut:
a. Gacon yang paling dekat dengan garis mendapatkan urutan nomor satu dalam menembak.
b. Gacon yang tepat di garis mendapat urutan main/ menembak paling akhir. Ataupun boleh juga gacon yang lepas lewat garis mendapat urutan terakhir.
c. Gacon yang tidak mencapai garis mendapat urutan kedua. Kalau misalnya hanya ada tiga pemain yaitu A, B, C. Bila gacon si A jatuhnya dekat betul dengan garis, dia mendapat urutan pertama. Gacon si B misalnya ternyata tepat jatuhnya di atas garis maka dia mendapat urutan terakhir ; melihat keadaan letak gacon kawan-kawannya, si C melemparkan gaconnya garis untuk memperoleh urutan pemain kedua.
Untuk jelasnya pada halaman berikut ini digambarkan skets permainan serta posisi gacon masing-masing dan memperoleh urutan pemain. Berdasarkan mufakat, ditentukan beberapa buah karet gelang yang menjadi taruhan, misalnya ditentukan 10 buah bagi masing-masing peserta sehingga jumlah karet yang ditaburkan di dalam lingkaran ada 30 buah. Sekarang si A yang mendapat urutan pertama menembak (melempar) karet dalam lingkaran dari garis tembak, ternyata misalnya ada karet yang keluar lingkaran. Untuk karet-karet yang keluar yang boleh diambil adalah karet-karet yang keluar dengan ukuran jarak dari garis lingkaran sepanjang satu tekukan ruas atau jari jempol tangan kalau taruhan sedikit, dan selebar lingkaran karet dari garis lingkaran bila taruhan banyak.
Bila ada karet yang berhasil didapat oleh si A dari lemparan yang pertama tdi, dia berhak melanjutkan melempar/ menembak dari tempat berhentinya gacon pada tembakan pertama tadi.
Demikianlah seterusnya si A berhak terus menembak karet selagi karet-karet taruhan masih ada dalam lingkaran. Kalau dalam penembakan selanjutnya si A tidak berhasil, maka pemain kedualah yang menembak dari garis tembak. Bila karet-karet taruhandalam lingkaran sudah habis semua, permainan dimulai lagi dari awal, yaitu mencari urutan menembak, mengisi karet taruhan, dan seterusnya.
Bila si A dalam menembak pertama tadi (dari garis tembak), karet keluar lingkaran tetapi gaconnya nyelonong lalu menyenggol kaki kawan sepermainan ataupun kaki penonton hal inilah yang dikatakan pacet dan si A boleh menembak kembali tetapi dari garis tembak.
Kalau dalam tembakan pertama tadi oleh si A tidak ada karet yang keluar, sedang gaconnya menyenggol kaki lawan atau penonton, juga dikatakan pacet dan berhak kembali menembak dari garis tembak tetapi dengan giliran terakhir asal karet taruhan dalam lingkaran masih ada.
Kalau dalam tembakan pertama tadi oleh si A tidak ada karet yang keluar lingkaran, maka gaconnya tidak boleh diangkat/ dipindahkan dari tempat jatuhnya. Hal ini karena bila dia mendapat gaconnya tersebut. Selanjutnya kalau si A gagal, giliran si C yang bermain.
Bila dianggap si C lebih mudah menembak gacon si A dari pada menembak karet-karet dalam lingkaran, maka dia lalu menembak gacon si A lebih dahulu sebagai batu loncatan untuk menembak lingkaran baila gacon si A berhasil dikenai gacon si C, maka si A dinyatakan mati (tidak berhak lagi dalam permainan babak tersebut). Berarti tinggallah si C dan si B yang memperubuyka karet-karet yang masih ada dalam lingkaran. Setelah si A dinyatakan mati, si C lalu melanjutkan permainannya. Dia kini lebih mudah menembak lingkaran karena lebih dekat. Kalau dalam penembakan-penembakan karet oleh si C berhasil terus sampai habis semua karet taruhan dalam lingkaran, permainan babak tersebut selesai. Berarti dalm hal ini si B yang mendapat urutan terakhir tidak sempat bermain dan permainan dimulai lagidengan taruhan yang baru.

b. MAIN JELENTIK
Permainan ini dinamakn main jelentik karena di dalam permianan tersebut dipergunakan telunjuk menjentik karet yang dipermainkan.

Jalannya Permainan

Antara peserta terlebih dahulu diadakan semacam undian yang disebut “suit”. Barangsiapa yang menang dalam suit ini, dialah yang berhak untuk lebih dahulu memulai permainan. Misalnya pemain ada dua orang yaitu si A dan si B. Dalam undian suit, ternyata si A menang, berarti si A berhak lebih dahulu main. Taruhan karet masing-masing sebuah. Lalu jarak antara kedua karet gelang diukur dengan lebarnya ujung jari telunjuk yang dilakukan dengan cara seolah-olah membuat garis dengan ujung telunjuk di antara kedua karet taruhan mengukur/ menggaris antara kedua karet tadi tidak tersentuh oleh ujung jari telunjuk, maka karet pelaku dijentik dari luar untuk ditindihkan di atas karet lawan mainnya. Apabila karetnya berhasil menindih, maka lawan mainnyalah yang mendapat giliran melakukan hal itu. Tetapi bila lawan mainnyapun tidak berhasil pula, maka diadakan suit kembali. Dalam mengukur jarak antara kedua karet yang dibantingkan ke tanah tadi, bila ujung jari telunjuk yang mengukur menyinggung kedua karet tersebut, maka kedua karet tadi harus diulang dibanting ke tanah. Kalau salah seorang berhasil menjentik karet tadi sehingga menindih karet lawan mainnya, maka karet lawan tersebut menjadi milikinya dan permainan diteruskan dengan taruhan yang baru dan diadakan undian suit kembali dan seterusnya. Jadi setiap kali main, taruhan hanya karet gelang saja.

c. MAIN BANDAR

Dinamakan “main bandar” karena dalam permainan karet versi ini ada pemain yang jadi bandar berdasarkan pemilik karet terbanyak di antara para peserta, dan dapat terdiri dari satu orang atau dua orang. Anggota pemain lain yang tidak terbatas jumlahnya adalah pemasang taruhan.

Jalannya Permainan

Mula-mula digambarkan di tanah dengan sepotong arang/ kapur, sebuah segi empat dengan panjang sisi masing-masing lebih kurang 30 cm, kemudian segi empat tersebut dibagi menjadi empat pula. Segi empat yang empat buah tadi diberi nomor satu sampai empat. Selanjutnya jarak lebih kurang tiga meter dari segi empat tersebut dibuat suatu garis batas, dari mana para pemain melemparkan karet yang telah digulung di lengannya ke dalam segi empat tersebut. Bila seseorang pemain berhasil melemparkan karet gelangnya ke segi empat tersebut tadi, misalnya masuk di nomor tiga, maka si bandar harus membayarnya dengan memberikan karet gelang sebnayak tiga buah sesuai di nomor berapa jatuhnya karet si pemain tadi. Tetapi bila lemparan si pemain tidak berhasil, jatuhnya tidak masuk ke dalam salah satu segi empat yang bernomor tadi, maka karet tersebut menjadi milik bandar permainan.

d. MAIN KALENG SUSU

Disebut demikian karena alat yang dipergunakan dalam main karet jenis ini adalah sebuah kaleng susu sebagai tempat meletakkan karet-karet taruhan, di samping pecahan genteng atau batu yang digunakan masing-masing pemain.
Misalnya ada tiga pemain, mula-mula mereka mencari/ menentukan urutan pemain dengan jalan melemparkan gacon/ alat pelempar dari tempat kaleng susu diletakkan ke garis tempat berdiri untuk menembak kaleng yang berjarak lebih kurang 7 meter. Gacon yang terdekat dengan garis tersebut, pemiliknya memperoleh urutan pertama dalam menembak/ melempar kaleng, dan seterusnya semakin jauh gacon dari garis semakin akhir urutan pemain itu. Kemudian ditentukan berapa buah karet gelang sebagai taruhan masing-masing pemain. Kalau misalnya ditentukan masing-masing pemain atau peserta sebanyak 5 buah, sedang peserta ada 3 orang, berarti karet gelang yang ditaruh di atas kaleng susu itu ada sebanyak 15 buah. Sekarang pemain pertama dari garis batas melemparkan gaconnya pada kaleng susu, bila kena dan rubuh maka semua karet taruhan itu menjadi miliknya semua kecuali karet gelang yang tertindih kaleng tersebut.

e. MAIN LIDI

Nama permainan karet jenis ini disesuaikan pula dengan alat yang dipakai pada permainan yaitu sebuah lidi yang ditancapkan di tanah sepanjang lebih kurang sejengkal dari tanah.

Jalannya Permainan

Sebuah lidi ditancapkan di tanah sepanjang sejengkal dengan jarak satu meter dari lidi dibuat stu garis yang gunanya sebagai batas tempat berdirinya pemain untuk memasukkan karet gelang pada lidi. Urutan pemain dilaksanakan dengan jalan semacam undian. Misalkan ada 3 orang pemain, mula-mula mereka melakukan um-pi-pa, mendapat urutan pertama, dan mennag dalam suit mendapat urutan kedua sedang satunya lagi mendapat urutan terakhir. Kemudian mereka menentukan berapa karet taruhan bagi masing-masing pemain. Kalau misalnya masing-masing taruhan limakaret gelang berarti terdapat karet taruhan sebanyak 15 buah.
Pemain pertama melemparkan sekaligus ke 15 karet tersebut kea rah lidi dari garis batas. Kalau ada karet yang masuk/ mengalung pada lidi, maka karet tersebut menjadi miliknya. Karet yang masih sisa/ tidak mengalung pada lidi dimainkan oleh pemain kedua. Dan bila masih bersisa, dimainkan oleh pemain terakhir. Bila dalam pelemparan oleh masing-masing anggota tadi tidak ada karet yang masuk/ mengalung pada lidi, karet-karet tersebut masih tetap dimainkan oleh mereka sesuai dengan urutan masing-masing. Bila telah habis diadakan taruhan baru sesuai dengan persetujuan, yang kemudian mencari urutan pemain kembali dengan jalan undian seperti di atas.

9. Peranan Masa Kini
Pada waktu ini permainan karet masih merupakan permainan yang digemari oleh anak-anak, terutama karena mudah mendapat alatnya, yaitu karet gelang.

10. Tanggapan Masyarakat
Masyarakat tidak berkeberatan anak-anakanya melakukan permainan ini di samping karena alatnya mudah di dapat/ murah, juga terdapat unsure-unsur olahraga dan keterampilan.

Asal Usul Orang Lampung (Part II)

Setelah tulisan yang lalu membahas Zaman Hindu Animisme, kali ini SIKAM LAMPUNG UNJ akan menyelesaikan tulisan mengenai Asal Usul Orang Lampung pada Zaman Islam dan Zaman Hindu Belanda. Silahkan dibaca:

ZAMAN ISLAM

Walaupun sudah sejak 651 M utusan Khalifah Usman bin Affan, yaitu Sayid Ibnu Abi Waqqas bertransmigrasi ke Kwang Chou di negeri Cina dan meskipun utusan Tulangbawang pernah datang ke negeri Cina dalam abad ke-7, namun rupanya orang-orang Lampung di kala itu belum memasuki agama Islam.

Islam diperkirakan memasuki daerah Lampung di sekitar abad ke-15, melalui tiga arah. Pertama dari arah barat (Minangkabau) memasuki dataran tinggi Belalau. Kedua daerah utara (Palembang), memasuki daerah Komering pada permulaan abad ke-15 (1443) di Palembang. Ketiga dari Banten oleh Fatahillah, Sunan Gunung Jati, memasuki daerah Labuhan Maringgai sekarang, yaitu di keratuan Pugung disekitar tahun 1525, sebelum direbutnya Sunda Kelapa (1526).

Dari perkawinan Fatahillah dengan putri Sinar Alam anak Ratu Pugung maka lahirlah Minak Kejala Ratu yang kemudian menjadi cikal bakal Keratuan Darah Putih yang menurunkan Raden Intan.
Dengan masuknya masyarakat adat Pugung ke agama Islam dan setelah itu dengan berdirinya keratuan di daerah putih sebagai tempat penyebaran Islam di daerah Lampung yang pertama, maka secara berangsur-angsur orang-orang Peminggir di pantai selatan memasuki agama Islam. Dalam rangka membangun Negara Islam dan melaksanakan dakwahnya, maka antara Ratu Putih dan Pangeran Sibangkingking (Maulana Hasanuddin) diadakan perjanjian yang terkenal sebagai Perjanjian Dalung Kuripan yang bunyinya sebagai berikut:

“Ratu darah putih linggih dating lampung, maka dating Pangeran Sibangkingking, maka mupakat, maka Wiraos sapa kang tua sapa kanga nom kita iki.
Maka pepatutan angadu wong anyata kakak tua kelayan anom. Maka mati wong Lampung dingin. Maka mati malih wong Banten ing buring ngongkon ning ngadu dateng pugung ini dijeroluang. Maka nyata anom ratu darah putih, Andika kang tua kaula kanga nom, andika ing Banten kaula ing Lampung.
Maka lami-lami ratu-ratu darah putih iku ing Banten malya kul Lampung. Anjeneng aken Pangeran Sebangkingking ngadekaken Ratu. Maka djaneningpun Susunan Sebangkingking. Maka ratu darah putih angaturaken Sawung galling. Maka mulih ing Lampung……

Selanjutnya Dalung Kuripan itu mengatakan:

Wadon Banten lamun dipaksa dening wong Lampung daring sukane, salerane, Lampung kena upat-upat wadon Lampung lamun dipaksa wong Banten daring sukane, salerane, atawa saenake bapakne, Banten kena upat-upat
Wong Banten ngangkon Lampung keduk susuk ngatawa mikul Banten kena upat-upat
Lampung ngangkon Banten keduk susuk, Lampung kenang upat-upat. Lamen ana musuh Banten, Banten pangerowa Lampung, tutburi. Lamen ana musuh Lampung, Lampung manyerowa Banten Tutwuri. Sawossi Djandji Lampung ngalak kak Padjadjaran, Dajuh Kekuningan, Kandang besi, Kedawung, Kang uba haruan, Parunkudjang. Kang anulis kang panji Pangeran Sebakingking wasta ratu mas lelan raji sengaji guling, wasta minak bay Taluk kang denpangan ati ning kebo. Serat tetelu, ing Banten Dalung, Ing Lampung saksi Dalung, Ing maningting serat kentjana.

Demikianlah setelah diketahui yang mana tua dan yang mana muda antara Ratu Darah Putih dan Maulana Hasanuddin, di mana Maulana Hasanuddin lah yang lebih tua, maka keduanya saling bermufakat bahwa Maulana Hasanuddin berkedudukan di Banten sedangkan Ratu Darah Putih berkedudukan di Lampung. Di antaranya disepakati pula bahwa jika ada wanita Banten yang akan dipaksa dengan orang Lampung bukan atas kemauannya, maka Lampung akan di upat-upat, sebaliknya jika wanita Lampung yang diperlakukan demikian, maka Banten akan di upat-upat.

Yang bersifat politik dalam Perjanjian Dalang Kuripan ini adalah, jika Banten menghadapi musuh, Lampung akan membantu, sebaliknya jika Lampung menghadapi musuh maka Banten akan membantu. Oleh karena musuh Banten di kala itu adalah Pajajaran, maka atas bantuan pasukan Lampung, Pajajaran itu dapat dikalahkan. Ketika Raden Intan menghadapi Belanda ia dibantu oleh pasukan-pasukan dari Banten.

Di masa Maulana Hasanuddin (1550 – 1570), orang-orang Abung belum ada yang melakukan seba ke Banten. Jika di antara pemuka-pemuka Abung ada yang beragama Islam atau mengaku beragama Islam, maka Islamnya bukan dari Banten. Sebagai contoh, Minak Sengaji suami dari Bolan yang diperkirakan hidup pada awal abad ke-16, telah beragama Islam yang nampaknya bukan dari zaman Banten, melainkan dari zaman Malaka yang menjadi pusat dakwah Islam dalam abad ke-15.

Ketika pemerintah Banten dibentuk oleh Sunan Gunung Jati (1530) dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanuddin, orang-orang Abung belum ada yang seba ke Banten. Mereka masih tetap memepertahankan adat istiadatnya yang serba Hindu animisme. Kemudian sebagiamana diuraikan Broersma:

“Toen oenyai was overleden, onstonden twisten tusschen Bagindo’s kloinkinderen, waarop een in monging van den Sultan van Banten is gevoldgd”.

Setelah Unyai wafat terjadilah perselisihan pendapat antara cucu Minak Paduka Begeduh sehingga salah satu dari mereka bergabung mengikuti kekuasaan Banten. Kami berpendapat bahwa perselisihan ini ada hubungannya dengan peperangan antara Banten dan Palembang yang terjadi pada tahun 1596, diaman Maulana Muhammad dari Banten gugur dalam peperangan itu.

Menurut cerita rakyat kayu Agung, disana terdapat keturunan yang disebut keturunan “Abung Bung Mayang” yaitu keturunan Mukodum Muter dari Marga Abung, dan keturunan Raja Jungut Marga Aji Muaradua.

Yang berangkat seba ke Banten dari masyarakat adat Abung adalah Minak Semelesem, cucu dari Unyai (Minak Triou Disou). Ketika seba, ia memang sudah tua, oleh karena itu pendirian pepadun baru dilaksanakan kemudian oleh putranya, Minak Paduka, bertempat di ilir Way Kunang, yaitu di Bijang Penagan. Menurut perkiraan adat Pepadun Abung ini dibentuk sekitar abad ke-17, setidak-tidaknya sebelum berlangsungnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1672).
Dibentuknya adat Pepadun ini berarti melaksanakan penerimaan ajaran Islam ke dalam masyarakat dan meninggalkan adat istiadat lama yang bersifat Hindu Animisme.
Namun karena kelemahan pemerintahan Belanda sejak kekuasaan Sultan Haji (1672 – 1687), dimana VOC diizinkan untuk membeli lada langsung dari para penyimbang kepala-kepala marga Lampung, serta sifat dakwah Islam yang berjalan lemah di daerah pedalaman, maka dalam pelaksanaan adat Pepadun sejak abad ke-18 dan seterusnya masih banyak dipertahankan tata cara zaman leluhurnya. Orang-orang VOC tidak mempunyai perhatian terhadap masyarakat dsn adat istiadat penduduk, karena yang penting bagi mereka hanyalah bagaimana mendapatkan hasil-hasil lada rakyat.

ZAMAN HINDU BELANDA

Pada tahun 1668 VOC mendirikan Petrus Albertus di Tulangbawang, sebagai tempat menampung hasil-hasil pembelian lada di daerah Lampung bagian utara. Benteng ini tidak lama dipertahankan karena sebagian besar orang-orang Abung tidak mau menjual hasil buminya. Maka pada tahun 1738 VOC menempatkan bentengnya “Valkenoong” di Bumiagung.

Dalam permulaan abad ke-18 kepala-kepala marga Lampung masih mengakui kedudukan penguasa Banten sebagai atasannya, tetapi kemudian mereka tidak diurus oleh Banten lagi, dengan demikian mereka mengatur dirinya sendiri terutama dalam menghadapi bahaya perompakan yang sering melanda daerah pedalaman. Dalam tahun 1779 VOC bubar dan pemerintahan Hindia Belanda tidak dapat mempengaruhi pemuka-pemuka adat di pantai selatan yang kebanyakan berpihak pada Inggris. Di antara tahun 1801 – 1805, sebatin-sebatin Bandar di daerah Semangka membuat perjanjian perdagangan lada dengan Inggris yang berkedudukan di Bengkulu.

Untuk menjinakkan hati orang-orang Lampung, pada tahun 1808 Daendels yang begitu kejam di Jawa malahan mengakui Raden Intan sebagai Prins Regent dengan pangkat kolonel untuk daerah Lampung. Sejak masa itu Raden Intan merasa bangga sebagai pimpinan orang Lampung di Keratuan Darah Putih. Pengakuan ini dilanjutkan di masa Rafles pada tahun 1812. Namun setelah Pemerintah Hindia Belanda menerima kembali pemerintahan dari Inggris pada tahun 1816 kekuasaan Raden Intan itu ternyata tidak diakuinya lagi. Oleh Belanda ia hanya dianggap sebagai pimpinan marga Ratu saja dan tidak berhak menjadi pimpinan masyarakat Lampung di daerah Pesisir.

Atas dasar itu maka terjadilah perang Lampung yang memakan waktu hampir 40 tahun. Di daerah pesisir Rajabasa (Kalianda), perang dipimpin oleh keturunan Raden Intan (1817 – 18 56), sedangkan di daerah pesisir semangka (Kotaagung) perang dipimpin oleh keturunan Magunang (1828 – 1856). Perlawananan rakyat pesisir ini pada mulanya dibantu dengan diam-diam oleh Inggris, tetapi kemudian mereka berjuang sendiri karena adanya tindakan Belanda yang kejam terhadap harta dan kehormatan mereka, di sana sini banyak yang habis dibakar.

Selama perlawanan rakyat Lampung di daerah pesisir selatan, Belanda kemudian berangsur-angsur berhasil menjinakkan pemuka-pemuka masyarakat adat pepadun, atas usaha Kapten J.A Du Bois, asisten Residen Menggala (1818) . Ia kemudian berhasil membentuk pemerintahan keresidenan Lampung yang pertama dan menjadi Residen denga ibukota keresidenan di Terbang Tinggi Besar (1829). J.A Du Bois mati dalam peperangan di daerah Keratuan Darah Putih pada tahun 1834.

Pada tahun 1856 perlawanan rakyat Lampung dapat dipadamkan dan pada tahun 1857 pemerintahan daerah ditetapkan Belanda berdasarkan susunan masyarakat adat setempat. Sejak masa ini, hukum adat pepadun mungkin berkembang dengan jiwa pi-il pesinggiri, yang anatara lain menganut azas-azas pokok sebagai berikut:

1. Pemerintahan adat dipimpin oleh anak tertua laki-laki sebagai punyimbang atas dasar kekerabatan bertali darah, kerukunan suku dan musyawarah pemuka adat (perwatin).

2. Anak punyimbang adalah waris pengganti ayahnya sebagai penerus keturunan dan penanggung jawab memegang semua harta peninggalan (hukum waris mayorat lelaki).

3. Perkawinan dilaksanakan dalam bentuk perkawinan dengan pembayaran jujur, dimana istri ikut dipihak suami dan tidak boleh terjadi perceraian.

4. Seluruh bidang tanah yang pernah dibuka oleh anggota kerabatadalah tanah-tanah yang dikuasai kebuwayan sebagai milik bersama. Tanah-tanah yang belum pernah dibuka adalah “tanah Tuhan”.

5. Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat kekerabatan atas dasar saling menghargai dan menjaga kehormatan kepunyimbangan masing-masing.

Pada tahun 1928 pemerintah Belanda menetapkan perubahan dari marga-marga geneologis-territorial menjadi marga-marga territorial-geneologis, dengan penetuan batas-batas daerah masing-masing. Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Jadwal Lengkap Jalur Masuk UNJ

REGULER

PMDK (PENELUSURAN MINAT DAN KEMAMPUAN)

1. Pendaftaran dan pembayaran : 25 Januari 2010 – 12 Maret 2010
2. Seleksi Berkas : 1 Februari 2010 – 18 Maret 2010
3. Pengumuman Seleksi Berkas : 1 April 2010
4. Test keterampilan (olahraga & seni) : 6 – 7 April 2010
5. Pengumuman : 10 April 2010
6. Daftar Ulang & pembayaran : 26 – 30 April 2010

UMB (Ujian Masuk Bersama)

1. Pembayaran di Bank BNI : 22 Februari 2010 – 19 Mei 2010
2. Pendaftaran Online : 12 April 2010 – 19 Mei 2010
3. Ujian Masuk : 22 Mei 2010
4. Pengumuman : 8 Juni 2010
5. Website UMB : http://www.penerimaan.spmb.or.id
6. Biaya Pendaftaran : Rp 200.000 (IPA/IPS), Rp. 225.000 (IPC)

1. SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)

1. Pendaftaran Online :
untuk tahun lulusan 2010
Gel.1 : 2 Mei 2010 – 31 Mei 2010
Gel 2 : 10 Juni 2010 – 12 Juni 2010 (Peserta UN Susulan)
Untuk tahun lulusan 2008 dan 2009
2 Mei 2010 – 12 Mei 2010
2. Ujian Masuk : 16 Juni 2010 – 17 Juni 2010
3. Pengumuman : 17 Juli 2010
4. Website SNMPTN : http://www.snmptn.ac.id
5. Biaya Pendaftaran : Rp 150.000 (IPA/IPS), Rp 175.000 (IPC)
Pembayaran di Loket/ATM/Internet Banking Bank Mandiri

NON REGULER
PENMABA (Ujian Mandiri)

1. Pendaftaran Online dan pembayaran : 19 April – 21 Juli 2010
2. Ujian Masuk : 24 Juli 2010
3. Pelaksanaan Test Keterampilan : 30 Juli 2010 – 31 Juli 2010
4. Pengumuman : 7 Agustus 2010
5. Daftar Ulang : 9 Agustus 2010 – 18 Agustus 2010
6. Biaya Pendaftaran : Rp 250.000 (IPA/IPS); Rp. 300.000 (IPC)
7. Website PENMABA : http://www.unj.ac.id

link masuk ke http://penmaba.unj.ac.id/

CARA PENDAFTARAN :
# Melakukan pembayaran di BNI untuk mendapatkan KODE PIN
# KODE PIN dipakai untuk LOG IN formulir
# Bila formulir sudah terisi benar, akan tampil KARTU UJIAN
# KARTU UJIAN di cetak (print out) dan dibawa untuk melaksanakan Ujian di UNJ

sumber: Humas UNJ

ASAL USUL ORANG LAMPUNG (LENGKAP)

Pada kesempatan kali ini, SIKAM LAMPUNG UNJ mengupas tentang asal usul orang Lampung. Pembahasan ini dibagi menjadi tiga bagian: Zaman Hindu Animisme, Zaman Islam, dan Zaman Hindu Belanda.

ZAMAN HINDU ANIMISME

Perkiraan sejarah suku bangsa Lampung dimulai dari zaman Hindu animisme yang berlaku antara tahun pertama Masehi sampai permulaan abad ke-16. Yang dimaksud dengan zaman Hindu di sini ialah zaman masuknya ajaran-ajaran atau system kebudayaan yang berasal dari daratan India termasuk Budhisme yang unsur-unsurnya terdapat dalam adat budaya orang Lampung. Nampaknya pengaruh Hinduisme itu sangat sedikit yang dianut oleh orang-orang Lampung, tetapi yang banyak adalah kepercayaan asli yang merupakan tradisi dari zaman Malayo-Polinesia, yang serba bersifat animisme.
Nampaknya daerah ini sudah lama dikenal orang-orang luar sekurang-kurangnya pada masa permulaan tahun Masehi, ia merupakan tempat orang-orang lautan mencari hasil-hasil hutan. Hal ini terbukti dari ditemukannya berbagai jenis bahan keramik dari zaman Han (206 s.M. – 220 M), begitu pula bahan keramik dari masa post-Han (abad ke-3 sampai abad ke-7) dan seterusnya ditemukan pula bahan-bahan keramik Cina sampai masa keramik dari zaman Ming (1368 – 1643).
Menurut berita negeri Cina dari abad ke-7, dikatakan bahwa di daerah selatan terdapat kerajaan-kerajaan yang antara lain disebut To-lang, P’ohwang. Dengan mempersatukan kedua nama itu maka dijumpai kembali Tulangbawang, yang ditempatkan di Lampung. Sebenranya letak bekas kerajaan ini yang tepat belum dapat diketahui dengan pasti, kita hanya dapat memperkirakan terletak di sekitar Way Tulangbawang, yaitu di kecamatan Tulangbawang (Menggala) di Kabupaten Lampung Utara bagian timur.
Apa yang dikatakan rakyat sebagai peninggalan sejarah berupa bukit yang terletak di rawa-rawa “bawang terbesu” di ujung kampong Unjung Gunung Menggala, yang disebut bukit “kapal cina” dan “pulau daging” masih merupakan tanda Tanya sejauh mana kebenaannya. Dikatakan bahwa kedua bukit itu adalah bekas kapal cina yang hancur dan tempat mayat yang bergelimpangan akibat perang dengan prajurit-prajurit Tulangbawang.
Begitu pula jika akan dihubungkan dengan kuburan keramat “Minak Sengaji”, cikal bakal kebuwayan Buway Bolan yang terletak di belakang kantor camat sekarang di Menggala, belum dapat dikatakan bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Ratu Tulangbawang. Oleh karena itu bila dilihat dari silsilah keturunannya sampai sekarang, yang ada baru 24 keturunan saja. Hal ini berarti bahwa kalau dikalikan dengan 20, maka Minak Sangaji yang telah beragama Islam itu diperkirakan hidup di selitar abad 16, mungkin sezaman dengan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati yang menduduki Sunda Kelapa tahun 1526.
Jika kita pergunakan pendapat Yamin, maka nama Tolang, Po’hwang akan berarti “orang Lampung” atau “utusan dari Lampung” yang dating dari negeri Cina sampai abad ke 7. Yamin mengatakan sebagai berkut:
“Perbandingan bahasa-bahasa Austronesia dapat memisahkan urutan kata untuk menamai kesaktian itu dengan nama asli, yaitu : tu (to, tuh), yang hidup misalnya dengan kata-kata ra-tu, Tuhan, wa-tu, tu-buh, tu-mbuhan, dan lain-lainnya.
Berhubung dengan urut kata asli – tu (tuh, to) yang menunjukkan kesaktian menurut perbandingan bahasa-bahasa yang masuk rumpun Austronesia, maka baiklah pula diperhatikan bahwa urat itu terdapat dalam kata-kata seperti to (orang dalam bahasa Toraja), tu (Makasar dan Bugis)”.

Dengan demikian To-lang, P’ohwang berarti To-orang, sedangkan lang P’hwang = Lampung, dan sejak itu orang menyebut daerah ini Lampung.
Meningkatnya kekuasaan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 disebut dalam inskripsi batu tumpul Kedudukan Bukit dari kaki bukit Seguntang di sebelah barat daya Kota Palembang, yang mengatakan bahwa pada tahun 683 Sriwijaya telah berkuasa di laut dan di darat, dan pada tahun 686 negara itu telah mengirimkan ekspedisinya untuk menaklukan daerha-daerah lain di Sumatera dan Jawa. Olah karena itu dapatlah diperkirakan bahwa sejak masa itu Kerajaan Tulangbawang telah dikuasai oleh Sriwijaya, atau daerah ini tidak berperan lagi sebagai kota pelabuhan sungai di pantai timur Lampung.
Riwayat lama yang disampaikan secara turun temurun di kalangan rakyat mengatakan bahwa cikal bakal sebagian besar orang Lampung yang ada sekarang ini berasal dari Sekala Be’rak , yaitu suatu daerah dataran tinggi gunung Pesagi (2262 m)di kecamatan Kenali (Belalau) sekarang.
Dengan demikian diperkirakan bahwa nenek moyang orang Lampung itu hidup di Bukit Barisan pada abad ke-13 atau setidak-tidaknya sezaman dengan kerajaan Paguruyung Minangkabau yang didirikan Adityawarman pada tahun 1339.
Di dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu kitab adat istiadat orang Lampung yang hingg sekarang masih dapat ditemukan dan dibaca, baik dalam aksara asli maupun yang sudah ditulis dalam aksara latin, walaupun isinya sudah banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang masuk dari Banten, dikatakan sebagai berikut:
“Siji turunan Batin tilu suku tuha lagi lewek djak Pagaruyung Menangkabau pina turun satu putri kajangan, dikawinkan jama Kun Tunggal, ja ngadu Ruh Tunggal ja ngakon tunggal ja ngadakan umpu sai tungau umpu sai tungau ngadakan umpu serunting umpu sai runting pendah disekala berak jak budiri ratu pumanggilan, Ratu pumanggilan (umpu sai Runting nganak lima muari:

1. Sai tuha Indor Gadjah turun abung siwa miga
2. Sai Belungguh turunan peminggir
3. Sai Pa’lang nurunkan pubijan 2 suku
4. Si Padan ilang
5. Si sangkan wat di suka ham

Dengan demikian, menurut Kuntara Raja Niti, orang Lampung (suku Pubijan, Abung Peminggir, dan lain-lain) berasal dari Pagaruyung, keturunan putrid Kayangan dan Kua Tunggal. Kemudian setelah kerabat mereka berdiam di Sekala Be’rak, maka di masa cucunya, Umpu Serunting, mereka mendirikan Keratuan Pemanggilan. Umpu Serunting ini menurunkan lima orang anak laki-laki mereka adalah Indra Gadjah yang menurunkan orang Abung, Belunguh yang menurunkan orang-orang Peminggir, Pa’lang yang menurunkan orang-orang Pubiyan, Pandan yang diakatakan menghilang dan Sungkan yang dikatakan Suku Ham.
Selanjutnya sebagaimana diuraikan dalam Kuntara Raja Niti, karena orang-orang Bajau(perompak laut) dating menyerang, maka keratuan Pemanggilan itu pecah sedangkan warga masyarakat beralih tempat meninggalkan Sekala Be’rak, ke daerah dataran rendah Lampung sekarang. Keturunan Indra Gadjah kemudian menetap di Ulok (Kecamatan Tanjungraja Lampung Utara), di mana di bawah pimpinan Minak Rio Begeduh mereka mendirikan Keratuan Di Puncak.
Diperkirakan bahwa di masa Minak Rio Begeduh ini armada Majapahit singgah di pantai timur, yaitu di daerah kekuasaan Keratuan Pugung yang berada di kecamatan Labuhan Maringgai sekarang tetapi tidak sampai masuk ke daerah pedalaman.
Di masa kekuasan putra Minak Rio Begeduh yang bernama Minak Paduka Begeduh, daerah Abung diserang lagi oleh perompak dari laut yang mengakibatkan tewasnya Minak Paduka Begeduh. Hal ini menyebabkan keempat anak Minak Paduka Begeduh mengadakan pertahanan. Mereka adalah Unyai (Minak Trio Disou), yang membuat pertahanan di sepanjang Way Abung dan Way Rarem, Unyi (Minak Ratu Di Bumi), membuat pertahanan di sepanjang Way Seputih, Uban (wanita) dengan suaminya yang membuat pertahanan di sepanjang Way Terusan. Menurut cerita turun temurun yang kita dengar, Subing berhasil menebus kehormatan ayah mereka Minak Paduka Begeduh yang wafat itu dengan membunuh kepala perompak yang disebut Raja Dilaut.