CAM-CAM BUKUR

Selain permainan karet, Lampung masih memiliki beberapa permainan tradisional, salah satunya adalah “CAM-CAM BUKUR”. Penasaran dengan permainan ini?. Simak tulisan dibawah ini, ok…

1. Nama Permainan
Permainan ini dinamakan “Cam-cam Bukur” adalah sesuai dengan syair yang diucapkan/ dibawakan pada saat penyelenggaraan permainan.

2. Hubungan Permainan dengan Peristiwa lain
Penyelenggaraan permainan ini tidak ada hubungan apa-apa dengan peristiwa-peristiwa sosial tertentu ataupun suatu kepercayaan religius magis, melainkan haya bersifat reaktif yang kompetitif.

3. Latar Belakang Sosial Budaya Penyelenggraan Permainan
Permaianan ini dapat dilakukan oleh anak-anak dari segala tingkatan atau lapisan masyarakat.

4. Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan
Sejarah perkembangan permainan ini tidak diketahui dari mana sumbernya dan siapa pembawanya dan sebagainya. Yang jelas bagi informan bahwa permainan ini sudah dikenal sejak masa kanak-kanak.

5. Peserta/ Pelaku Permainan
Permainan ini pada umumnya dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia sekitar 7 – 12 tahun, tapi kadang juga dilakukan oleh anak perempuan. Jumlah peserta minimal 4 orang, tetapi semakin banyak pserta semakin meriah.

6. Peralatan/ Perlengkapan Permainan
Perlengkapan permainan hanya menggunakan sebuah batu kerikil dan sepotong kayu untuk ditancapkan di tanah sebagai patokan.

7. Iringan Permainan
Dalam penyelenggraan permainan ini tidak disertai dengan iringan bunyi-bunyian ataupun alat musik, melainkan hanya sebagai syair yang diucapkan berulang-ulang oleh ketua permainan

8. Jalannya Permainan
Permainan ini biasanya dilakukan anak-anak pada saat sore hari atau pada malam terang bulan. Misaknya 6 orang anak telah sepakat akan melaksanakan permainan ini. Mereka mencari halaman rumah yang agak luas, halaman sekolah, atau sebuah lapangan kecil. Dengan jalan bersuit secara bertingkat, mereka akan mendapatkan siapa yang akan menjadi pemenang final. Maka pemenang final itulah yang menjadi ketua, pemimpim permainan (misalnya si A).

Anak-anak yang lima orang, misalnya si B, si C, si D, si E, dan si F, berbaris satu-satu dengan jarak atau lancing tangan dan menghadap kepada tonggak yang ditancapkan di tanah sebagai patokan dengan jarak kurang lebih 20 meter dari barisan.
Kedua belah tangan anak-anak yang berbaris ditarik ke belakang dengan telapak tangan kanan yang terbuka. Sang ketua sambil menggenggam batu kerikil pada tangan kanannya, lalu berjalan mondar-mandir di belakang barisan tersebut sambil mengucapkan satu bait syair secara berulang-ulang. Pada setiap suku kata syair tersebut dia menyentuhkan tangannya yang mengenggam batu kerikil pada tangan anak-anak yang berbaris itu. Bait pantun tersebut adalah sebagai berikut:

Cam-cam Bukur,
Rimbat Bunga lalu,
Kusinggung kusimbat,
Sapa dapat melompat.

Yang artinya kira-kira demikian:

Cam-cam Bukur,
Menggait bunga sambil lalu,
‘ Kusinggung dan ku sentuh,
Siapa mendapat cepat melompat.

Sementara itu anak-anak yang berbaris tersebut waspada dan was-was menantikan, akan diletakkan di tangan siapakah batu kerikil tersebut oleh si ketua setelah dua kali ulang atau lebih syair tersebut oleh ketua (dalam hal ini terserah pada ketua).

Maka batu kerikil tadi diletakkan pada telapak tangan salah seorang di antara anak-anak yang berbaris itu. Maka si anak tersebut harus segera melompat ke muka kea rah tonggak yang telah ditentukan. Bila si anak yang mendapat batu kerikil tadi, misalnya si D, pada saat hendak melompat dan lari ke arah tonggak, sempat dijangkau dan disentuh oleh salah seorang anak yang dekat dengan si D, berarti si D gagal dan harus mengembalikan batu kerikil tersebut kepada ketua.

Maka sang ketuapun mengulangi lagi permainan dengan cara kembali berjalan mondar-mandir di belakang anak-anak yang berbaris sambil mengucapkan syair dan menyentuh-nyentuhkan tangannya yang berisi kerikil pada tangan anak-anak tersebut.

Jika dimisalkan bahwa si D berhasil melompat dan lari menuju tonggak tanpa tersentuh oleh anak-anak lain, dia lantas menunggu di situ. Sementara itu kepada anggota-anggota barisan, sang ketua sambil berbisik memberikan nama samara bagi masing-masing anggota. Kelima anggota yang berbaris tersebut oleh ketua secar berbisik diberikan nama samara apa saja, boleh nama binatang, nama tumbuhan, dan sebagainya. Misalnya dalam hal ini, si B – kuda, si C – kerbau, si E – kucing, si F – kambing. Kemudian oleh si ketua kepada anak yang menunggu di patok tadi (si D) ditanyakan, apakah: kuda, kerbau, kucing, atau kambing. Kalau si D menjawab: “Mau Kuda”, maka anak yang mempunyai nama samara kudalah (si B) yang bertugas menjemput si D dan menggendongnya membawa ke tempat barisan kembali (dalam hal ini biasanya digendong belakang). Setelah permainan babak tersebut selesai, kemudian dilanjutkan kembali oleh ketua yang baru berdasarkan undian. Dan ketua yang baru inipun memimpin permainan seperti yang telah dilaksanakan oleh ketua terdahulu. Dengan catatan bahwa si D sebelum semua kawan-kawannya mendapat giliran dia belum boleh mendapat batu kerikil itu kembali. Kalau sudah semua mendapat giliran memimpin permainan dan mendapat giliran digendong, terserah semua anggota apakah permainan akan dilanjutkan atau dihentikan. Yang membuat lucu dalam permainan ini adalah bila sang ketua/ pemimpin permainan dengan cerdiknya memberikan nama-nama samara binatang-binatang yang besar untuk anak-anak yang berbadan kecil dan binatang-binatang yang kecil untuk anak-anak yang berbadan besar. Sehingga bila yang bernama samara binantang yang besar, sedang anak yang berbadan kecil terpilih untuk menggendong, dan yang digendong berbadan besar akan Nampak lucu sekali. Di mana anak kecil yang menggendong tadi dengan tertatih-tatih membawa beban gendongannya yang besar di punggungnya. Demikianlah permainan ini akan berakhir bila semua anggota telah mendapat giliran digendong, sedang para anggota pemain sudah ingin berhenti.

9. Peranannya Masa Kini
Permainan ini masih sering dilakukan oleh anak-anak terutama di desa-desa yang jauh dari kota-kota karena belum terdesak oleh permainan yang datang dari luar.

10. Tanggapan Masyarakat
Dalam penyelenggraan ini masyarakat terutama orang-orang tua merasa senang melihat anaknya bermain/ bergaul sesamanya. Dengan demikian anak-anak tidak melakukan kenakalan di rumah. Di samping itu dalam permainan ini mengandung unsure olahraga, musyawarah, disiplin, dan sebagainya.

Iklan

About blog mahasiswa lampung UNJ

merupakan perkumpulan mahasiswa Lampung Universitas Negeri Jakarta

Posted on April 28, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: