Monthly Archives: Mei 2010

TIPS PENDAFTARAN PENMABA MANDIRI

Sebelum Anda membayar biaya ujian masuk UNJ (beli PIN) di bank, sebaiknya Anda cermati 12 tips pendaftaran Penmaba Mandiri secara on line berikut.

1. Tentukan program studi (prodi) di UNJ yang akan Anda pilih dengan melihat daftar prodi.

2. Periksa! Apakah prodi tersebut masuk kelompok ujian IPA, IPS, atau AP (alih program).

3. Tentukan pilihan kelompok ujian Anda IPA, IPS, IPC (campuran IPA dan IPS), atau AP. Pilihan IPA atau IPS boleh tidak berdasarkan program studi Anda di SLTA. Berarti lulusan IPS atau Bahasa boleh memilih prodi di Fakultas Teknik atau Fakultas FMIPA.
1. Jika memilih IPA, Anda hanya dapat memilih 2 prodi pada kelompok IPA saja dan boleh lintas jenjang atau fakultas.
2. Jika memilih IPS, Anda hanya dapat memilih 2 prodi pada kelompok IPS saja dan boleh lintas jenjang atau fakultas.
3. Jika memilih IPC, Anda dapat memilih 3 prodi pada kelompok IPA dan IPS dengan catatan minimal satu prodi kelompok IPA dan satu prodi kelompok IPS serta boleh lintas jenjang atau fakultas.

4. Khusus bagi yang memilih kelompok ujian Alih Program (bagi yang telah punya ijazah D1, D2, D3, atau S1) hanya dapat memilih 2 prodi yang menerima Alih Program saja.

5. Anda beli PIN di cabang bank BNI se-Indonesia dengan menyebutkan kelompok ujian tersebut di atas (bukan prodi Anda di SLTA). Jangan sampai Anda salah! Jika salah, maka Anda harus beli PIN lagi.

6. Anda telah memiliki file pas foto digital dalam format .jpg berukuran maksimal 75 kb.

7. Sebelum mendaftar melalui internet, Anda harus menyiapkan: a) data pribadi lengkap, b) data pribadi orangtua/wali, c) data asal pendidikan sebelumnya.

8. Anda mendaftar pada portal http://penmaba.ac.id/mandiri dan tidak perlu ke UNJ.

9. Ketika mengisi data pendaftaran Anda boleh mengisinya bertahap dan dapat memperbaikinya. Namun, setelah Anda mengklik pilihan “Daftar” pada pilihan konfirmasi (layar kedelapan), Anda tidak bisa lagi mengubah data.

10. Cetaklah kartu ujian Anda (disarankan berwarna). Simpanlah kartu ujian tersebut dengan baik, karena ketika mendaftar ulang di BAAK UNJ, kartu tersebut harus diserahkan.

11. Pada kartu ujian akan tertera lokasi dan ruang ujian tulis Penmaba Mandiri.

12. Untuk informasi lengkap unduhlah Panduan Penmaba Mandiri di http://www.unj.ac.id/puskom/Pedoman_Umum.pdf

sumber: Humas UNJ

Mengenal Lebih Jauh Bahasa Lampung

Dalam Encyclopaedie van Nederlands Indie dikatakan bahwa bahasa derah Lampung adalah bahasa yang dipergunakan di daerah keresidenan Lampung, di daerah Komering yang termasuk dalam keresidenan Palembang dan di daerah Krui. Menurut van der Tuuk, bahasa Lampung dapat dibagi dalam dua induk dialek, yaitu dialek Abung dan dialek Pubiyan, namun Dr. Van Royen membagi bahasa daerah Lampung dalam dua dialek, yaitu dialek api dan dialek nyou.
Sebenarnya dalam bahasa sehari-hari kita dapat membedakan antara dialek yang ucapannya banyak memakai kata-kata “a” dan banyak menggunakan kata-kata “o” atau “ou”. Dialek “a” kita golongkan dalam “Belalau”, sedangkan dialek “o” atau “ou” kita golongkan dalam dialek “Abung”.
Sebagai contoh perbedaan dari kedua dialek itu, perhatikan kata-kata berikut:

Dialek Belalau (A) Dialek Abung (O) Indonesia
api… nyou… apa…
haga.. agou.. mau..
jelma.. jemou.. orang..
sina.. enaou.. itu..
cawa.. cawou.. kata..
raja.. rajaou.. raja..

Contoh dalam bentuk kalimat:

Dialek A : Kak saka ngakalinding haga bancong nyak rabai, mak hina gering nuntun bunga di tangkai.

Dialek O : Kak sakou ngekelinding agou bacceng nyak ghabai, mak inou atei buguh ngebekem di tangkai.

Indonesia : Sudah lama mendekat ma uterus terang saya takut, tak demikian hati ingin mengenggam bunga di tangkai.

Sebenarnya antara kedua dialek itu tidak begitu banyak terdapat perbedaan. Dialek yang banyak dipakai adalah dialek A. Yang sedikit agak lain dalam ucapan ialah percampuran antara dialek A dan O yang karena pengaruh setempat lalu menjadi dialek (seperti dialek Jakarta). Hal ini tampak pada bahasa Kayu Agung.

Dari kedua dialek itu, Walker membedakan antara dialek Abung dan Peminggir, dengan mengatakannya sebagai berikut:
“The two dialects may be farther subdivided. Abung has two sub-dialects which are very close in vocabulary, but with some phohological differences: Abung and Menggala. Pesisir may be divided into four sub-dialects: Komering, Krui, Pubiyan, and amiscellaneous grouping in the southern areas”.

Oleh karena Walker membagi sub-dialek itu menurut lokasi daerah, maka sub-dialek bahasa Way Kanan dan Sungkai tidak disebutnya. Dengan masih mengingat pembagian Van Royen, maka bahasa daerah Lampung kita bagi dalam dialek dan langsung dengan perbedaan adat istiadat masyrakat, seperti berikut:

Bahasa Lampung
1. Dialek A (Belalau)
A. Beradat Peminggir
a. Melinting Maringgai
b. Pesisir Rajabasa
c. Pesisir Teluk
d. Pesisir Semangka
e. Pesisir Krui
f. Belalau/ Ranau
g. Komering
h. Kayu Agung
B. Berdat
a. Way Kanan
b. Sungkai
c. Pubiyan

2. Dialek O (Abung)
A. Beradat Pepadun
a. Abung
b. Tulangbawang

Bahasa Lampung ini sekarang hanya merupakan bahasa kerabat yang terbatas pemakaiannya, yaitu hanya dipakai di rumah, di kampung-kampung penduduk asli antara sesamanya, dan di waktu permusyawaratan adat.
Banyak anak-anak muda Lampung di kota-kota besar sudah tidak lagi menggunakan bahasa derahnya, dan hanya memakai bahasa Indonesia saja.

Bahasa Lampung tidak mempunyai tingkatan-tingkatan perbedaan dalam pemakaian bahasa seperti bahasa Jawa, melainkan seperti bahasa Belanda yang hanya cukup mengganti kata ganti orang dalam pembicaraan antar sesama orang muda, antara orang yang muda dengan orang tua, atau antar sesama orang tua.

Untuk menunjukkan sopan santun dalam pembinaan dengan orang tua, cukup melemahkan ucapan.

PENGARUH BAHASA MELAYU (INDONESIA)

Bahasa Lampung sesungguhnya bahasa Melayu juga, tetapi karena dialek bahasanya lain, maka sukar untuk dipahami bahasa dari daerah Sumatera Selatan atau Minangkabau dari pada memahami bahasa Lampung atau bahasa Batak. Di dalam peta bahasa daerah Indonesia, bahasa Lampung merupakan kelompok dialek yang termasuk pula dialek Rejang Bengkulu.

Sebenarnya di masa sekarang sudah banyak bahasa Melayu (Indonesia)

Sumber: Adat Istiadat Daerah Lampung . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah . 1983