Monthly Archives: Juli 2010

[PENTING!!] TATA TERTIB UJIAN PENMABA MANDIRI UNJ 2010/2011

Tata Tertib Ujian

1. Sehari sebelum ujian berlangsung (Jum’at, 23 Juli 2010), peserta sudah harus mengetahui ruang dan lokasi ujiannya.
2. Peserta harus membawa : Tanda Peserta Ujian, pensil 2B, karet penghapus, ballpoint.
3. Peserta harus datang ke Lokasi Ujian (Sabtu, 24 Juli 2010) 30 menit sebelum ujian dimulai (jam 07.30 WIB).
4. Peserta harus berpakaian yang rapi dan sopan.
5. Peserta tidak diijinkan membawa tas, buku, kertas, daftar logaritma, kalkulator, radio, pager, handphone dan/atau alat elektronika/komunikasi lain ke dalam ruang ujian (barang-barang tersebut harus dititipkan kepada Pengawas atau diletakkan ditempat yang disediakan oleh pengawas. HP harus dimatikan).
6. Peserta hanya boleh memasuki ruang ujian setelah diijinkan oleh Pengawas (jam 07.45 WIB).
7. Peserta tidak diperkenankan menyentuh naskah materi ujian (MU) dan lembar jawaban ujian (LJU) dengan alasan apapun sebelum waktu ujian dimulai.
8. Setelah waktu ujian dimulai (jam 08.00 WIB) peserta harus meneliti kelengkapan dan keutuhan naskah materi dan lembar jawaban ujian sebelum mengerjakan soal.
9. Peserta menandatangani Daftar Hadir Peserta yang diedarkan Pengawas.
10. Peserta tidak boleh bertanya tentang materi soal ujian kepada siapapun.
11. Peserta harus mengikuti ujian dengan tertib dan sopan, serta mematuhi petunjuk.
12. Selama ujian berlangsung, peserta tidak boleh keluar kelas, kecuali untuk kepentingan darurat atas izin dan diantar oleh pengawas.
13. Selama ujian berlangsung, peserta tidak diperkenankan kerjasama, saling pinjam alat tulis, atau melakukan kecurangan dalam bentuk dan cara apapun.
14. Peserta harus tetap duduk di tempat duduknya, hingga waktu ujian berakhir dan telah diizinkan keluar oleh pengawas.
15. Peserta yang kehilangan tanda peserta ujian harus segera melapor ke Panitia Penmaba Mandiri untuk mendapatkan surat izin khusus mengikuti ujian dengan menunjukkan bukti diri (KTP/SIM/Paspor)
16. Setiap pelanggar tata tertib ini akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, dan mengakibatkan tidak diikutsertakannya peserta ke dalam proses seleksi selanjutnya.

Sumber: http://penmaba.unj.ac.id:11001/mandiriinfo/

Atlet Tinju Pensiun, Jadi Cleaning Service

Mantan Atlet Tinju Lampung Berprestasi yang Dilupakan

Sorot matanya terlihat sayu. Tubuhnya kurus dan hanya dibalut pakaian sederhana. Dia adalah Cakarmanto, salah seorang petinju yang sempat mengharumkan nama Lampung di luar daerah. Saat itu , Cakarmanto terlihat sedang membersihkan kaca depan GOR Sumpah Pemuda.

“Ya beginilah Mas, Saya selalu keliling dari satu tempat ke tempat lain untuk bekerja sebagai cleaning service. Sore di sini. Kalau pagi sampai siang di SDB (Sekolah Darma Bangsa, Red)”, katanya menceritakan usahanya menyambung hidup setelah tidak bertinju lagi.

Lelaki kelahiran tahun 1965 yang dahulu dijuluki Cakarmen ini lantas mengisahkan sejarah hidupnya hingga menekuni dunia tinju. Ia mengaku tertarik dengan tinju setelah menyaksikan kehebatan raja tinju era 1979 Hary My Timo.

“Saat itu saya benar-benar kagum sama Hary. Gayanya menginspirasi saya untuk bias bertinju dengan baik. Bisa dibilang saya memang mencontoh gaya permainannya,” kenang Cakramanto.

Bahkan, untuk mengasah kemampuannya, bapak empat anak ini sempat “sekolah” ke daerah lain. Salah satunya Pekanbaru. Meski begitu, akhirnya ia kembali lagi dan membela Lampung.

“Saya sangat bangga Mas kalau bertanding membawa nama Lampung. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk daerah ini,” ucapnya dengan senyuman mengembang.

Mantan petinju yang berlatih di Sasana Radin Intan ini telah mengukir berbagai prestasi di dunia tinju. Di antaranya juara favorit nasional pada ajang Pra-PON 1984, ranking empat besar kelas terbang tahun 1987, dan masuk delapan besar di Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 1985.
Cakarmanto juga meraih prestasi sebagai favorit daerah Lampung paada tahun 1987, petinju berbakat pada tahun 1984, dan petinju terbaik daerah Lampung tahun 1987.

“Sebenarnya masih ada penghargaan lain. Tetapi saya sudah lupa-lupa ingat,” katanya pelan.

Pria yang sempat bekerja sebagai sekuriti di beberapa tempat hiburan di Bandar Lampung ini menuturkan, selama karirnya di dunia tinju dalam kurun waktu 1981 – 1990, ia telah naik ring sebanyak 50 kali. Dari pertandingan yang dijalaninya, ia mendapatkan 25 medali.

“Walaupun belum pernah meraih medali emas, saya sangat bangga dengan torehan yang pernah saya ukir. Apa lagu selama karir, saya sama sekali belum pernah kalah TKO. Bahkan waktu melawan petinju idola (Hary My Timo), saya juga bias melawan dia meskipun kalah angka,” ujarnya.

Disinggung pertandingan mana yang paling berkesan, pria berambut pendek ini menyatakan saat dirinya dikalahkan petinju Irian Jaya di PON 1985. Saat itu Irian Jaya berhasil meraih medali emas.

“Meski kalah, pengurus KONI bangga dengan hasil yang saya peroleh. Apalagi petinju yang mengalahkan saya akhirnya berhasil menjadi juara,” tukasnya.

Namun, semua berbeda dengan kondisi Cakramanto saat ini. Petinju tangguh itu akhirnya harus mundur dari arena. Ini disebabkan banyaknya petinju muda dan memiliki modal cukup.

“Saya pensiun dari tinju akhir tahun 1990. Karena saat iti semuanya harus memakai duit. Jadi bagi atlet yang punya duit, akan mudah mewakili Lampung ke berbagai even. Walaupun sebenarnya kemampuannya bias dibilang biasa-biasa saja. Sedangkan saya tidak mempunyai apa-apa Mas,” ungkapnya.

Setelah terpaksa mundur, pada tahun 1991 – 1999, Cakarmanto bekerja sebagai satpam di sebuah hotel di Bandar Lampung. Kemudian sejak 1990 hingga sekarang, ia berprofesi sebagai cleaning service.
“Kerjaan ini (cleaning service, Red) yang bisa membantu saya mencukupi kebutuhan empat anak. Saya sama sekali tidak pernah mengulurkan tangan untuk meminta. Cuma berharap ada pihak yang memperhatikan dan memperkerjakan saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

sumber: http://radarlampung.co.id/epaper/2010/07juli/160710.html