Monthly Archives: September 2010

Halal Bihalal SIKAM Lampung UNJ 2010

Sabtu, 25 September 2010 SIKAM Lampung UNJ kembali mengadakan acara. Kali ini acaranya adalah Halal Bihalal. Walaupun Halal Bihalal itu kami tak tahu maknanya apa yang terpenting adalah kami kembali merajut hubungan silaturahmi, sudah cukup lama kami tidak bertemu, yah…kurang lebih dua bulan.

Acara dimulai pukul 10.00 WIB, harusnya pukul 09.00 WIB, tetapi karena banyak yang terlambat akhirnya ditunda selama 1 jam.
Teman-teman yang hadir adalah: Arman, Erik, Dito, Fandi, Dendy, Asghor, Darul, Yufin, Iqbal, Cahyo, Agphin, Oki, Ali, Dina, Amel, Astri, Asih, Uli, Resi, Anisa, Puput, Ira, Pipin, Desna, Ayuza, (siapa lagi ya….tadi lupa diabsen sih…hehe)…oya yang terakhir datang Sahid…

Setelah berbasa basi, kami bersepakat untuk mengadakan silaturahmi kembali tanggal 9 Oktober 2010. Rencananya akan diadakan pergantian kepengurusan. Berarti pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir bagi Agphin sebagai Ketua SIKAM Lampung UNJ (hehe…gak penting bgt ya….)

Yang lain dari pertemuan sebelumnya, pertemuan hari ini begitu banyaaaakkk sekali makanan….senangnya…
🙂
sampai-sampai yang berpuasa pun dapat makanan untuk buka puasa nanti.

Senang sekali rasanya bisa berkenalan dengan teman-teman mahasiswa 2010..ada juga angkatan 2009 tetapi baru hari ini ia datang, namanya Asghor..tidak masalah karena dengan begitu kita semakin banyak kenalan, berarti semakin banyak teman..so semakin banyak saudara…

Akan jauh lebih bahagia kalau saja teman-teman yang lain (semua angkatan) bisa hadir…yah…mudah-mudahan saja tanggal 9 Oktober nanti semua anggota SIKAM Lampung UNJ bisa hadir, karena kita akan memilih ketua yang baru. Harapannya ketua yang baru lebih baik dari si Agphin sehingga SIKAM Lampung UNJ pun jauhhh lebih baik lagi.

Yuk perkuat silaturahmi dalam perantauan…

Dokumentasi



Asal Usul Kota Metro

Bangsa Indonesia sudah lama dijajah Belanda. Banyak hasil bumi yang dibawa ke sana dan digunakan untuk membangun negeri Kincir Angin tersebut. Tidak mengherankan ketika pemuda pemudi Indonesia mulai mendirikan perkumpulan untuk Indonesia merdeka, orang Belanda Tidak suka.

Akan tetapi, bagaimana pun kejamnya kaum penjajah itu, ternyata mereka juga meninggalkan banyak kenangan. Misalnya, perpindahan penduduk dari daerah padat dan miskin di Pulau Jawa, yang sekarang dikenal dengan nama transmigrasi. Program itu pada zaman penjajahan Hindia Belanda disebut kolonisasi. Tujuannya disamping pemerataan penduduk, orang-orang yang dipindahkan itu akan dipekerjakan pada perkebunan-perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda yang berada di luar Pulau Jawa. Sebagian lagi ditempatkan di daerah-daerah baru untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan baru.
Program kolonisasi itu dimulai tahun 1905. Pada awalnya hanya dilakukan di dalam Pulau Jawa, kemudian berkembang di luar Pulau Jawa, yaitu ke Pulau Sumatera, tapatnya di daerah Lampung.
Menjelang tahun 1932 sudah banyak keluarga Jawa yang dikirim ke Lampung dan ditempatkan di daerah Gedongtataan, Kota Agung, Wonosobo, dan sekitarnya. Baru pada tahun 1932 pemerintah Hindia Belanda mulai mengirimkan para kolonis (penduduk) itu ke daerah utara. Mereka ditempatkan di daerah Trimurjo, tepatnya di desa Adipuro yang dikenal dengan sebutan bedeng 1 atau BD 1. Salah seorang yang ikut program kolonisasi itu adalah Mbah Sumohadi (sekarang usianya sekitar 80 tahun), yang tinggal di BD 41 Desa Batangharjo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Tengah. Menurut Mbah Sum, panggilan akrabnya, waktu itu mereka ditempatkan di rumah-rumah yang dinamakan “bedeng”. Setiap orang mendapatkan alat-alat pertanian.

Lalu, kenang Mbah Sum, lahan pertanian yang disuruh kerjakan itu diberi patok=patok sebagai batas. Rumah atau bedeng itu dibuat dengan menggunakan tiang karena daerah itu masih berupa hutan lebat dan banyak binatang buas. Untuk setiap beberapa bedeng ditempatkan pengawas. Ada pula mantra kesehatan yang memberikan obat bila ada orang yang sakit. Penyakit yang diderita umumnya malaria.

Setiap calon desa waktu itu terdiri atas beberapa rumah bedeng. Makin lama derah yang ditempati makin ramai karena sudah banyak hutan yang dibuka, sedangkan penduduk ditempatkan di daerah yang dikenal dengan nama Metro. Untuk dapat ke lokasi BD 15 mereka harus menempuh perjalanan panjang melalui Kotagajah, Gedongdalem, kemudian terus ke Metro. Antara tahun 1932 – 1935 belum ada jalan yang bisa dilewati kendaraan dari Trimurjo ke Metro, walaupun jaraknya sekitar 10 km.

Akan tetapi, menurut beberapa cerita, jalan dari Trimurjo ke Metro dirintis oleh Kolonis atas perintah dari penjajah Belanda. Karena banyak tanah rawanya, di atas jalan itu diletakkan kayu-kayu bulat agar dapat dilalui gerobak dan kendaraan milik orang Belanda.
Akhirnya, daerah sekitar Kota Metro dapat dijangkau dalam waktu singkat. Setelah jalan tembus dibuka, kemajuan kolonis di BD 15 begitu cepat. Kolonis di daerah Sukadana pun mengalami perkembangan pesat bahkan melebihi perkembangan daerah kolonis pertama di Gedongtataan, Lampung Selatan. Desa induk yang dibuat Belanda tanggal 5 Juni 1937 dipindahkan secara resmi ke Metro sebagai desa induk pengganti. Itu dilakukan melihat perkembangan Metro yang sangat pesat.

Tentang asal nama Metro itu sendiri ada dua cerita. Pertama, diambil dari bahasa Belanda, yaitu centrum yang berarti pusat. Kedua, Kota Metro diberikan oleh para kolonis dari Jawa. Pada waktu itu, orang-orang Jawa yang ditempatkan di BD 15 merasa senasib sepenaggungan, memiliki bahasa yang sama. Jadi, semua kolonis menanggung susah dan senang bersama-sama.

Dari perasaan itulah mereka semula menyebutkan tempat itu sebagai Mitro, berarti rekan. Lama-kelamaan pengucapannya berubah menjadi Metro. Sampai sekarang daerah itu dinamakan Metro. Menutu buku Dari Kolonisasi ke Transmigrasi pada tahun 1939 di Metro terdapat seorang kontrolir Belanda, seorang insinyur, dan seorang dokter pemerintah. Metro sebagai ibukota kolonisasi Sukadana bahkan telah memiliki pasar besar, kantor pos, pesanggrahan, masjid, dan penerangan listrik.

Sampai tahun 1941 di Metro sudah ada 2 orang dokter, 13 orang mantri dan juru rawat, 1 orang mantri malaria, 80 orang pembagi kinina (?), 2 orang pembantu klinik, dan 1 orang bidan. Di samping itu ada berbagai sekolah khususnya sekolah yang dikelola misi Katolik. Sejak tahun 1941 saluran irigasi dari Trimurjo terus diperpanjang dan tahun 1942 saluran yang dikenal oleh masyarakat Lampung Tengah dengan sebutan ledeng sudah mencapai Batanghari. Dengan perkembangan yang begitu pesat, dengan sendirinya derah sekitar Metro juga ikut berkembang dan tetap menggunakan nama bedeng.

Ilustrasi

Tidak mengherankan kalau di sekitar Metro dibuka lagi bedeng-bedeng baru sampai bedeng 67 yang kini berada di Kecamatan Sekampung. Di kota Metro sendiri bedeng-bedeng itu dipecah lagi, seperti bedeng 15 polos, bedeng 15 A, bedeng 15 B Barat, bedeng 15 B Timur, bedeng 15 Kauman, bedeng 21 polos, bedeng 21 B, bedeng 21 C, bedeng 21 D, bedeng 22, bedeng 16, bedeng 16 A, dan sampai bedeng 16 C.
Biasanya, di belakang nomor bedeng ditulis nama desanya, misalnya bedeng 16 C Mulyojati. Demikian pula penamaan bedeng lainnya yang sampai sekarang terbatas pada bedeng 67. Namun satu bedeng tidak semua menjadi satu desa. Ada juga satu bedeng dibagi menjadi dua desa, tergantung luas desa dan jumlah penduduknya.

Demikianlah asal usul Kota Metro yang sampai saat ini sudah berusia 73 tahun. Saat ini Metro merupakan kota administratif kedua di Lampung setelah Bandar Lampung. Kota Metro terdiri kecamatan Metro Raya dan Bantul.

Kesimpulan

Dari asal usul Kota Metro, sangat terasa bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat gotong royong, saling menolong, serta sangat menghargai jasa-jasa dan karya cipta orang-orang yang lebih dahulu berbuat untuk orang banyak

Sumber: (Buku Cerita Rakyat dari Lampung 2, penulis Naim Emel Prahana, penerbit Grasindo)

SAKSI SEJARAH MASA KOLONIAL

Saksi bisu sejarah perjuangan anak negeri terendap dalam rekaman jejak gedung megah bernama Masjid Al Abror yang terletak di Jalan Terusan Pemuda, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Hiruk pikuk suasana kota tak mampu menggeser kekuatannya, meski “dilupakan” generasi muda. Semangatnya tetap menyala, walau terus terusik dengan majunya zaman yang mulai menua.
Digagas di atas semangat Islam pada 1914 dengan pendiri Habib Husein bin Ahmad bin Jafar Assegaf, masjid ini terus saja “bergerak” melalui lokomatif peradaban.
Dibalik kemegahannya, ternyata banyak yang tak tahu pada zaman kolonial Belanda, masjid yang awalnya berdiri tidak lebih dari 12 x 8 meter ini dijadikan markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan basis Laskar Hisbullah Lampung pada perang kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tanah seluas 400 m2, masjid ini terus mengikuti alur waktu. Pemugaran kali pertama dilakukan pada 1972 dengan mengadopsi arsitektur Arab modern. Renovasi kedua dilakukan medio Januari 1994 dengan menggabungkan arsitektur Timur Tengah dan Eropa. Selanjutnya, pada 1998 renovasi kembali berlanjut hingga diselesaikan seperti sekarang ini.
Masjid yang telah masuk dalam situs kepurbakalaan itu hamper sebagian peninggalan sejarahnya telah hilang akibat renovasi yang dilakukan beberapa kali. Hanya ada jam berukuran besar di sampir mimbar yang diperkirakan umurnya pun sudah puluhan tahun.
Sumber: Radar Lampung (Minggu, 19 September 2010)

Lokasi Rawan Kecelakaan di Provinsi Lampung

Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tidak dapat terlepas dari budaya mudik, pulang kampung bertemu dengan sanak saudara di kampung halaman tercinta.
Agar perjalanan mudik Anda aman dan lancar. Berikut ini kami sampaikan Lokasi Rawan Kecelakaan di Provinsi Lampung.
Lokasi Jalan Rusak Lintas Timur
– Jl. Soekarno-Hatta, Sukadana, Lamtim
– Ruas Jl. Labuhanmaringgai, Lamtim
– Desa Labuhanbatu, Pasirsakti, Lamtim
– Desa Bandaragung, Ketapang, Lamsel
– Desa Lebungbalak, Ketapang, Lamsel
– Km 123 Terusanunyai, Lamteng
– Km 235 Desa Agungbatin, Tuba
– Km 189 Banjaragung, Tuba
– Km 169 Jembatan Menggala, Tuba
– Km 145 Menggala, Tuba
jalan rusak
Lokasi Jalan Rusak Lintas Tengah
– Km 204 dan 171 Blambanganumpu, Waykanan
– Km 78 Jembatan Tipo, Gunungsugih, Lamteng
– Jalinsum Km 79, Susunhatta
Lokasi Jalan Rusak Lintas Barat
– Km 112 Padangmanis, Tanggamus
– Km 75 Gunungalip, Surakarta, Tanggamus
– Km 20 Karyapenggawa, Lambar
– Km 29 Krui-Liwa, Lambar
– Km 45 Bengkunat, Lambar

macet
Lokasi Rawan Macet
– Jl. Soekarno-Hatta, Kalibalok, Sukarame, Bandar Lampung
– Jl. Imam Bonjol, Metro Pusat, Kota Metro
– Jl. A. Yani, Pasar Dekon, Kotabumi, Lampura
– Pasar Bukitkemuning Km 154 – 155, Lampura
– Jalan Raya Pasar Pringsewu
Lokasi Rawan Kriminalitas
– Pelabuhan Bakauheni, Lamsel
– Pelabuhan Panjang
– Terminal Induk Rajabasa
– Stasiun KA Tanjungkarang, Bandar Lampung
– Pusat Perbelanjaan

Semoga bermanfaat.

Sumber: Polda Lampung (Radar Lampung, Selasa 7 September 2010)

Cerita dibalik hebohnya Bukber Sikamala (SIKAM Lampung UNJ)

Tahun ini untuk kedua kalinya SIKAM Lampung UNJ mengadakan Buka Puasa Bersama sekaligus penyambutan mahasiswa baru, berawal dari H-3 minggu kami mengadakan rapat persiapannya, diambil keputusan bahwa acara berlokasi di tempat yang sama ketika satu tahun yang lalu, yaitu di kontrakannya Bang Sahid atau lebih dikenal dengan SMILE. Ketua Pelaksana acara ini adalah Yufin dari FE 2009, dan tak lupa infak/ sumbangan setiap anggota Rp 15.000 dengan catatan mahasiswa baru tidak dipungut biaya sama sekali alias GRATIS!. Kami pun bersepakat akan mengadakan rapat persiapan akhir tanggal 29 September 2010, empat hari sebelum acara dimulai.

29 September 2010, pukul 09.00 WIB @pelataran Masjid Alumni

Terlihat pelataran Masjid Alumni ramai, banyak ibu-ibu yang sedang menulis. Sepertinya mahasiswa S2 yang sedang “ngebut” mengerjakan tugas karena takut dimarahi dosen, aku cekikan dalam hati melihatnya. Lalu, dimana teman-teman yang lain? Oh…ternyata mereka belum datang. Ya, sudah tak apa, jadi ketua memang harus hadir lebih awal dan pulang paling akhir.

Lima menit kemudian hadirlah Rian dan Yufin, mereka berdua inilah laki-laki yang paling aktif di Sikamala. Wah, untung saja sudah ada yang hadir. Dan satu jam kemudian….total 12 orang yang hadir dalam rapat persiapan akhir Buka Puasa Bersama & Penyambutan Mahasiswa Baru Lampung. Dari keduabelas orang ini terkumpulah uang sebesar Rp 175.000. Padahal kami menargetkan yang hadir sebanyak 40 orang, jika Rp 175.000 dibagi rata ke 40 orang hasilnya Rp 4.375. Makan pake apa ini??? Makan di warsun pun kurang.

Cerita kami “skip”. Karena setelah itu kami langsung bergerak. Mempublikasikan acara, baik lewat pamflet maupun lewat SMS.

2 September 2010 (23 Ramadhan 1431), pukul 13.00 WIB @SMILE

Aku memang sudah berjanji akan datang mengecek dan mempersiapkan tempat ini sebelum nanti sore akan kami gunakan untuk menyelenggarakan acara. Ternyata ruangan ini penuh debu, aku dan Bang Sahid pun dengan semangat 45 membersihkan rumah ini dari ujung barat sampai ujung timur.

Uppsss…Ternyata di bagian dapurnya ada makhluk mungil yang menyeramkan, ia malu untuk keluar, akhirnya ia hanya bersembunyi di balik lemari. Padahal kami berdua sudah menggodanya untuk keluar dari rumah ini, tapi ia tetap malu. Ya sudah, mau diapakan lagi, yang penting teman-teman nanti jangan sampai tahu kalau ada makhluk mungil (TIKUS) di sini.

Satu jam kemudian, Cahyo datang. Ia adalah teman sekamarku. Jadilah kami bertiga membersihkan rumah kontrakannya Bang Sahid. Persis seperti suami-suami yang ditinggal istrinya mudik.
Pukul 16.27 WIB hadir tamu undangan yang pertama, kebetulan ia masih memiliki hubungan persaudaraan dengan ku.
Aku baru ingat, ternyata pukul 17.00 WIB aku harus mengambil nasi kotak yang telah dipesan kemarin. Aku dan Cahyo pun ke sana dengan berjalan kaki. Di depan kampus kami memesan gorengan.

Langit terang, tak ada tanda-tanda akan hujan. Tapi entah mengapa tepat di depan Pos Satpam hujan turun perlahan, tak sabar menunggu hujan akhirnya kami tetap meneruskan perjalanan. Sesampai di DA**R KI*A sudah tampak pesanan kami, 40 nasi kotak. Hujan masih turun, sedangkan kami hanya berdua dan tak membawa payung. Bapak-bapak itu menyarankan kami untuk menggotong saja dengan susunan vertikal 10 ke atas, aku membawa 20 kotak, dan Cahyo pun 20 kotak. Kami mencobanya, tapi baru beberapa meter kami tak kuat. Bukan tidak kuat mengangkatnya. Tapi mau ditaro di mana muka kami, jika susunan nasi kotak ini jatuh dan ayam bakarnya berguling-guling di atas jembatan Busway.
“Hmm..lebih baik kita gunakan bajai saja, yo!”, kataku. Akhirnya kami pun naik bajai.

Naik bajai berdua dengan Cahyo ditemani dengan 40 nasi kotak ternyata penuh dengan tantangan, kawan!. Jangan kau lakukan ini sebelum kau berlatih keseimbangan.

(Sebenarnya bagian ini adalah inti dari kehebohan bukber Sikamala, namun karena terbatasnya kata dan tidak semua peristiwa dapat diungkapkan dengan kata-kata, jadi ceritanya cukup sampai di sini, terimakasih, wassalam)

Dokumentasi 1